Tersedot: Kisah Sepotong Usus Buntu Dalam Toples

oleh Paul Jennings

Ada sesuatu mengambang di dalam toples. Sebuah benda aneh, berwarna abu-abu seperti sepotong daging dan bau, tidak hidup, tidak juga mati. Aku sampai bergidik melihatnya. Aku berharap bisa menahan diri untuk tidak melihatnya. Tapi aku tidak bisa karena yang lain pun melihatnya. Semua mata memandang ke arah toples di atas meja.

“Baiklah,” kata Pak Guru baru. “Sekarang kalian tulis cerita tentang benda ini.”

Terdengar suara mengeluh. Benda di dalam toples itu cuma cara lain agar kami menulis sementara Pak Guru menghapus papan tulis. Kupikir, mungkin Pak Guru mungkin membuat benda itu dari kulit binatang atau mungkin sejenisnya.

“Aduh, aku nggak bisa mikir nih,” kata Mary Jo.

“Aku juga,” kata Helen Chung.

Si Pak Guru baru tersenyum. “Baiklah,” katanya. “Bapak akan menjadi yang pertama bercerita. Kalau itu bisa memberi kalian ide untuk menulis. Nah, setelah itu baru kalian yang menulis.”

Hmm, kedengarannya sih lebih baik.

Kami bersiap mendengar cerita Pak Guru. Namun alih-alih memerhatikan Pak Guru, kami menatap pada benda di dalam toples. Benda itu mengambang, diam, dan tidak bersuara.

Pak Guru pun memulai ceritanya.

* *

Trevor tahu kalau laki-laki berjas putih itu akan mengirisnya dengan pisau. Sebuah pisau bedah. Laki-laki itu akan membedah perutnya dan mengeluarkan usus buntunya.

“Apa yang akan dokter lakukan pada …?” tanya Trevor yang sedang berbaring di meja operasi

“Pada apa?” tanya dokter.

“Usus buntu dan amandelku dan yang lainnya setelah dokter mengeluarkannya.”

“Aku akan membakarnya,” kata si dokter. “Di dalam ruang bakar.”

“Aku ingin menyimpannya,” kata Trevor. “Aku tidak ingin kau membakarnya.”

Dokter melihat perawat dari balik maskernya dan mengatakan sesuatu. Si perawat mengangguk.

“Baiklah kalau begitu,” kata si dokter, kemudian menyuntik lengan trevor. Ruangan pun mulai berputar.

“Bagus,” gumam Trevor, sebelum pandangannya menjadi gelap. “Karena kami harus selalu bersama – aku dan usus buntuku.”

Ketika terbangun dia melihat jahitan di perutnya dan sebuah toples di samping tempat tidurnya dengan sesuatu mengambang di dalamnya. Meski perutnya terasa sakit namun dia masih bisa tersenyum. Usus buntunya pasti sudah dikeluarkan. Tapi untungnya tidak dibuang.

Dia mengambil toples itu dan memandangnya. “Kau tidak akan pernah meninggalkanku,” dia berkata. “Tidak akan pernah. Kita harus selalu bersama.”

Setibanya di rumah, Trevor menaruh toples tersebut di dalam sebuah tempat yang menurutnya aman, dan kemudian pergi ke kamarnya. Dia melepas pakaiannya lalu naik ke tempat tidur. Tidak berapa lama dia mulai menutup matanya. Dia mulai terbawa mimpi ketika mendengar teriakan keras yang berasal dari dapur. Dia melangkah gontai menuruni tangga secepatnya dan menemukan ibunya sedang menatap sesuatu di dalam kulkas.

“Ada apa sih?” katanya.

“Ibu nggak merasa menaruh usus buntu di dalam situ,” ibunya berkata. “Itu menjijikkan.”

“Itu tidak menjijikkan. Itu milikku, bagian dari diriku. Seperti mata dan otakku. Kalau ibu tidak suka usus buntuku itu sama artinya ibu tidak sayang padaku.”

“Tapi kenapa kamu menaruhnya di dalam kulkas?” ibu berkata.

“Sepertinya tidak berbahaya,” kata Trevor.

“Tidak akan berbahaya karena usus buntumu direndam dalam formalin. Cairan itu yang mengawetkannya.”

Trevor melihat usus buntunya di dalam toples. “Mungkin kulkas tempat yang paling baik,” dia berkata. “Benda itu masih bagian dari diriku. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya.”

“Tapi tidak di dalam kulkas. Seseorang mungkin mengira itu manisan dan boleh jadi nanti dimakannya.”

Trevor mengangguk. “Betul juga. Kita tidak bisa menyimpannya dalam kulkas. Tapi ibu yakin itu tidak berbahaya, kan?”

“Ibu yakin.”

“Baguslah,” kata Trevor. “Aku akan membawanya ke sekolah. Aku dan usus buntuku. Kami akan selalu bersama.”

Ibunya hanya menarik nafas panjang dan menganggukkan kepalanya. “Dasar anak-anak,” dia berkata dalam hati.

Kemudian, usus buntunya dibawa ke sekolah. Trevor menaruhnya di atas mejanya. Teman-temannya berhenti mengobrol. Tiap mata melihat ke arah toples itu. Beberapa anak menahan nafas. Mereka terus menatap, menatap dan menatap. Mereka tidak bisa mengalihkan padangan mereka.

Di dalam toples ada sesuatu yang mengambang. Sesuatu yang aneh. Sesuatu berwarna abu-abu seperti sepotong daging. Sesuatu yang tidak hidup tapi tidak juga mati.

Tiap orang begidik, kecuali Trevor.

“Ini usus buntuku,” kata Trevor. “Kemanapun aku pergi, dia bersamaku.”

Anak-anak terkagum. Tidak ada yang pernah melihat usus buntu sebelumnya.

“Kamu sebaiknya menaruhnya di mejaku,” kata Pak Birtle. “Tidak ada yang bisa berhenti melihatnya. Dan kita tidak akan bisa belajar kalau caranya demikian.”

Sebenarnya Pak Britle-lah yang tidak bisa berhenti melihat isi toples. Dia seperti terhipnotis.

“Kamu yakin ini benar-benar usus buntu?” kata Pak Britle pada Trevor. “Saya berani sumpah kalau benda itu hidup. Saya pikir saya melihatnya bergerak.”

Semua mata melihat usus buntu itu … benda itu bergerak berputar di dalam cairan kuning.

Pak Birtle berkata pada Trevor. “Coba kamu pergi ke perpustakaan dan ambil buku anatomi,” katanya. “Saya mau melihat seperti apa bentuk usus buntu itu.”

Trevor sebenarnya tidak ingin pergi. Dia tidak ingin meninggalkan usus buntunya. Namun dia pun pergi juga. Dan ketika dia melangkah perlahan menuruni tangga, tangannya mulai terasa berkeringat. Jantungnya berdegup kencang. Kepalanya sakit. Dia ingin balik ke kelas, mengambil toplesnya dan mendekatkan ke wajahnya.

“Kita harus selalu bersama,” dia berkata.

Dia berjalan cepat ke perpustakaan dan mulai mencari buku anatomi.

Di dalam kelas, Pak Birtle menarik nafas panjang. Usus buntu itu benar-benar bergerak. Seperti ikan emas yang sedang marah, berputar di dalam toples.

Di perpustakaan, Trevor juga berputar-putar mengelilingi lemari seperti ikan emas yang sedang marah. Akhirnya dia menemukan apa yang dia cari. Dia mengambil buku anatomi dan bergegas kembali ke kelas.

Pak Birtle melihatnya ketika Trevor masuk kelas. “Dia marah,” kata Pak Birtle. “Usus buntu itu berenang berputar-putar.”

Trevor buru-buru mendekat ke toples dan melihat kedalamnya. Usus buntu itu hanya mengambang. Tidak bergerak. Wajah Pak Britle berubah keheranan. “Tadi begerak,” katanya. “Benda itu berhenti waktu kamu kembali. Coba kamu keluar kelas dan berdiri di sana, Trevor.”

“Aku tidak mau,” kata Trevor. “Aku tidak mau meninggalkannya. Kami harus selalu bersama.”

Pak Birtle menarik bibirnya. “Benda itu juga tidak mau kau meninggalkannya,” katanya. “Pergi dan berdiri di luar pintu – hanya sebentar.”

Trevor melakukannya. Dia meninggalkan kelas dan melihat ke dalam kelas melalui jendela. Tangannya berkeringat. Kepalanya sakit. Jantungnya terasa berat memompa. Dia menatap ke dalam kelas dan menarik nafas panjang. Usus buntunya bergerak berputar di dalam toples. Benda itu melompat-lompat seperti seekor ikan trout di jaring nelayan.

Murid-murid melangkah mundur. Mereka ketakutan. Sesuatu yang aneh terjadi.

Trevor bergegas masuk dan mengambil toplesnya. Usus buntunya menjadi lebih tenang dan mengambang di dalam formalin.

“Kita coba lagi,” kata pak Birtle. “Trevor, saya ingin kamu pergi keluar, ke seberang jalan dan pergi ke toko. Hitung sampai dua puluh dan balik lagi.”

Trevor manaruh toplesnya dan berjalan perlahan keluar pintu. Dia gemetaran ketika berjalan menyeberang jalan. Semakin jauh dia berjalan semakin sakit kepalanya. Dia meremas jari tangannya. Lalu menaruh tangannya di atas dadanya. Dengan langkah gemetar dia berjalan ke toko dan menutup pintu di belakangnya.

Suara gemuruh datang dari dalam sekolah. Tiga puluh orang teriak bersamaan.

Trevor berlari balik secepat kilat, bahkan dia tidak merasa kakinya menyentuh tanah. Dia seperti sedang terbang saat kembali ke sekolah.

“Kita harus selalu bersama!” teriaknya.

Dia turun di dalam kelas yang sepi. Tapi kelas itu tidak kosong. Semuanya berdiri menghadap ke dinding. Mereka melihat toples tersebut dengan pandangan ketakutan. Bahkan Pak Birtle.

Usus buntu itu melompat-lompat di dalam toples, menggedor-gedor tutupnya. Suaranya seperti peluru yang keluar dari senapan mesin. Tutup toples bergetar hebat.

Trevor bergegas mengambil toplesnya. Usus buntunya pun berubah tenang. Benda itu bergerak berputar dalam toples. Trevor tersenyum. Senang.

Pak Birtle melangkah ke depan kelas.

“Aku harus menyita benda itu, Trevor,” dia berkata, mengambil toples itu dari tangannya. “Sesuatu yang aneh terjadi. Ini bisa berbahaya.”

“Baiklah,” kata Trevor. “Jika itu yang bapak mau,” dia berbalik dan berjalan menuju pintu. Kelas pun mulai berteriak panik ketika sekali lagi si usus buntu menggedor-gedor tutup toples.

“Kembali,” teriak Pak Birtle. Dia mengembalikan toplesnya pada Trevor

“Terima kasih,” kata Trevor. Si usus buntu bergerak senang. “Kita harus selalu bersama.”

Sesaat kemudian bel berbunyi dan kelas pun bubar untuk makan siang.

“Kamu tunggulah di sini, Trevor,” kata Pak Birtle. “Aku akan memanggil kepala sekolah.”

Trevor melihat usus buntunya. “Mereka akan mengambilmu,” dia berkata. “Mereka tidak ingin kita bersama.”

Si usus buntu bergerak naik turun, sepertinya setuju dengan ucapan Trevor.

Kita harus keluar dari sini,” kata Trevor. “Kita harus selalu bersama.” Dia menggenggam erat toplesnya dan menyelinap turun tangga. Dia berjingkak sepanjang koridor dan pergi keluar. Dia bebas.

Tiba-tiba sebuah tangan menahan pundaknya. Di belakang Trevor ada Pak Birtle dan Pak Kepala Sekolah.

“Aku akan mengambil benda itu,” kata Pak Kepala Sekolah, merebut toples itu dari tangan Trevor. Si usus buntu mulai menggedor-gedor tutup toples. Dia bergerak cepat membuat isi toples menjadi keruh.

“Buang benda itu dari sini,” kata Pak Birtle. “Benda itu bisa menyerang anak-anak”

“Tidak,” teriak Trevor. “Kembalikan padaku. Kembalikan”

Pak Birtle menahan tangan Trevor sekuatnya. Kepala sekolah berlari membawa toples yang berguncang hebat. Dia melempar toples itu ke kursi belakang mobilnya dan kemudian ngebut meninggalkan gerbang sekolah.

“Kembali, kembali,” teriak Trevor. Tapi sia-sia. Usus buntunya sudah menghilang.

Tangan Pak Kepala Sekolah gemetaran di atas kemudi. Dia melihat ke belakang dan mencoba membuka paksa tutup toples. Tidak lama lagi tutup itu akan terbuka. Lalu apa yang terjadi kemudian? Seluruhnya akan meledak seperti sebuah bom. Dia menginjak pedal rem, lalu mengambil toples itu dan menaruhnya ke trotoar.

Pak Kepala Sekolah melompat dari mobilnya dan turun ke jalan. Dia berhanti dan melihat ke belakang. Toples itu meledak. Usus buntu melompat ke udara, berputar-putar seperti burung mabuk, kemudian jatuh dan mendarat ke dalam selokan.

Usus buntu itu pun terbebas.

Kembali ke sekolah, Trevor mencoba melepaskan diri dari Pak Birtle. Tapi dia terlalu kuat. Meski Trevor meronta seperti hewan liar tapi sia-sia. Dia tidak bisa lepas dari cengkraman pak Birtle.

Tiba-tiba tubuhnya ambruk. Seperti orang mati. Dia jatuh seperti boneka di tangan Pak Birtle. Pak Birtle meletakkan tubuhnya di lantai, menempelkan telinganya ke dada Trevor, lalu bergegas menuju lemari untuk mengambil handuk.

Trevor melompat dan berlari keluar sekolah. Tipuannya berhasil. Dia bebas mencari usus buntunya, dan usus buntunya pun bebas mencarinya. Benda itu menggeliat di sepanjang trotoar seperti seekor tikus basah dan bau.

Tidak ada satu pun orang yang terlihat di jalanan. Hanya ada seekor kucing. Kucing berwarna oranye yang besar. Si kucing melihat usus buntu itu, dan dengan cepat kucing itu melompat dan mendarat tepat di depan usus buntu. Si usus buntu berhenti. Si kucing membungkuk. Si usus buntu bergerak-gerak. Si kucing medekatinya dan menyentuhnya, sepertinya cakar si kucing mengenai si usus buntu. Si kucing mengeluarkan suara mengerang tiga kali, “Meong, meong, meong,” dan setelah itu dia menghilang ke dalam usus buntu, tersedot seperti kain lap masuk ke dalam sebuah vacum cleaner dan menghilang begitu saja seperti agar-agar ke dalam sedotan. Si usus buntu berputar-putar sebentar dan kemudian melanjutkan perjalanannya. Ukurannya tidak bertambah besar. Tidak juga menjadi lebih kecil. Tapi dia sudah makan seekor kucing. “Meong, meong, meong.” Si usus buntu meniru suara si kucing. “Meong, meong, meong.”

Si usus buntu berputar di pojok jalan dan berhenti lagi. Seekor anjing menggonggong dan bergerak memutari benda abu-abu itu yang terlihat gemetaran. Tiba-tiba si usus buntu bergerak dan melompat secepat kilat masuk ke dalam telinga si anjing. Si anjing menggonggong kesakitan. Dia mengoyang-goyang telinganya mencoba mengeluarkan si usus buntu. Tapi terlambat. “Guk, guk, guk,” si usus buntu menghisapnya. Anjing itu hilang. Dan si usus buntu masih terlihat kecil, abu-abu dan bau, menggeliat di jalan. “Guk, guk, guk,” bunyi si usus buntu, meniru mangsanya berulang-ulang. “Guk, guk, guk.” Dia sepertinya senang dengan suara anjing itu.

Di seberang jalan si benda abu-abu berlendir bergerak di bawah sebuah mobil dan menuruni saluran pembuangan. Sepertinya dia tahu kemana arahnya. Dia tahu kemana dia pergi. Dia sedang bergerak menuju Trevor.

Sementara itu Trevor terengah-engah sambil melihat ke belakangnya. Tidak ada yang mengikutinya. Dia sudah melarikan diri. Tapi dia kehabisan nafas. Kepalanya sakit. Tangannya penuh keringat. Tapi dia merasa sedikit lebih baik. Bagaimanapun juga dia tahu usus buntunya sedang bergerak ke arahnya. Dia duduk di pinggir selokan dan menunggu di sebelah saluran pembuangan.

“Skuik, skuik, skuik,” terdengar suara hewan kecil. Usus buntu keluar dari saluran pembuangan, masih meniru suara santapannya. Santapan yang didapat di dalam saluran; Seekor tikus besar yang penasaran.

Trevor tersenyum saat melihat usus buntunya.

“Kita harus bersama,” dia berkata.

Usus buntu itu kelihatan setuju dengannya. Dia menggeliat di kaki Trevor, melompat-lompat sampai ke lehernya dan terus naik ke dagunya. Trevor membuka mulutnya lebar-lebar. Dan usus buntunya merayap masuk.

Trevor menelannya. “Kita harus selalu bersama,” dia berkata. Dan mereka pun bersatu kembali.

* *

“Dan itulah akhir ceritanya,” kata Pak Guru baru.

Semua anak-anak di dalam kelas menatap toples di atas meja. Benda abu-abu itu begerak perlahan di dalam air berwarna kuning.

“Apa yang kalian pikirkan?” tanya Pak Guru baru.

Anak-anak merasa mual. Ceritanya sih bagus tapi tidak menyenangkan. Semuanya bertepuk tangan perlahan bersamaan dengan bunyi bel. Kemudian, semuanya pergi keluar untuk makan siang tapi tidak ada yang berani mendekat pada benda abu-abu mengerikan di dalam toples.

Aku menunggu sampai mereka keluar semuanya. Aku ingin bicara pada guru baru mengenai ceritanya.

“Ada satu yang salah dalam cerita itu,” kataku.

“Ya?” kata Pak Guru baru.

“Kalau usus buntu itu ditelan Trevor,” kataku, “Bagaimana benda itu bisa berada di dalam toles di meja bapak?”

Guru baru menggaruk dagunya. “Kau mungkin benar, “dia berkata. “Inilah sedikit kelemahan dari cerita itu. Tapi aku tidak akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.”

“Kenapa tidak?” tanyaku.

“Terlalu mengerikan,” katanya.

“Bapak bisa ceritakan padaku,” kataku.

“Maaf,” katanya. “Tapi bagaimanapun juga kau tidak akan percaya padaku.”

“Ini-kan cuma cerita,” kataku. “Iya, kan?”

“Iya, kan?” kata Pak Birtle. Dia tersenyum padaku dan pergi makan siang.

Aku melihat sesuatu di dalam botol. Benda itu memang aneh. Aku berpikir benda apa itu. Aku mengambil toplesnya. Benda di dalamnya perlahan bergerak. Benda itu seperti sepotong kulit yang sudah membusuk.

Aku memutuskan membuka tutupnya dan berharap keberuntungan. Tutupnya rapat. Aku tidak bisa memutarnya. Aku membuka laci meja Pak Birtle dan menemukan kain lap. Aku putar tutup toples itu dengan kain lap dan tutupnya mulai bergerak. Aku memutarnya sampai terbuka.

Aku melihat ke dalam toples. Sepotong daging berlendir yang terdiam.

Tidak pada awalnya.

Lalu, dengan perlahan dan mengerikan, benda itu keluar dari toples. Dia mengeluarkan suara sama seperti santapan teakhirnya.

“Kita harus selalu bersama,” benda itu berkata. “Kita harus selalu bersama”

* * *