Mat Soni

cerpen-thriller

Nama Mat Soni pernah menjadi semacam legenda di kampung kami. Mungkin menyebutnya sebagai legenda terlalu berlebihan, apalagi Mat Soni seorang kriminal. Aku sering menemukan Mat Soni tergeletak teler di pinggir jalan atau di pos ronda. Tidak ada yang berani membangunkannya. Tidak juga ayahnya.

Mat Soni bertubuh pendek, kedua kaki bengkoknya menopang tubuhnya yang gempal sehingga terkesan kekar. Sebenarnya Mat Soni datang dari keluarga baik-baik. Ayahnya memberi nama belakang Soni supaya kelak sang anak bisa bekerja di pabrik Sony. Tapi Mat Soni tidak beruntung. Sebelum beranjak dewasa, Sony sudah menutup pabriknya di Indonesia.

Jadi, kalau ada yang patut disalahkan menjadikan Mat Soni seorang preman adalah teman-teman Mat Soni di Pasar Kecoak, sebuah pasar barang bekas di perbatasan kampung. Merekalah yang paling berjasa membentuknya menjadi seorang ‘lelaki sejati’, membuat Mat Soni lebih menghormati orang yang memberikannya sebatang rokok ketimbang kedua orang tuanya.

Karir kriminal Mat Soni dimulai saat ia berusia lima belas. Ia sukses maling kambing sehari sebelum lebaran haji. Ia menjualnya dan mendapat beberapa ratus ribu yang dibelikannya minuman. Teman-temannya menantang Mat Soni mencuri sepeda motor Pak Kepala Desa. Mat Soni melakukannya dengan mudah. Sepeda motor Pak Kepala Desa dipreteli dan dijual ke Pasar Kecoak. Reputasinya semakin menanjak ketika ia membunuh ketua preman Pasar Kecoak beserta empat anak buahnya dengan tangan kosong. Waktu itu usinya tujuh belas tahun tiga bulan. Rumor yang beredar menyebutkan dirinya kebal dari senjata tajam dan tidak tembus peluru. Gara-gara kejadian itu Pasar Kecoak digrebek selusin polisi dan ditutup permanen.

Warga kampung lega saat polisi menangkap Mat Soni di bulan Juni 2006. Hakim menghukumnya sepuluh tahun penjara. Waktu yang cukup bagi warga kampung untuk melupakan Mat Soni.

Tapi, belum setahun, nama Mat Soni kembali membuat geger seisi kampung. Beritanya datang sangat cepat. Seperti hantu, Mat Soni menghilang dari penjara begitu saja. Sejak saat itu berita tentang Mat Soni simpang siur. Dari hari ke hari obrolan tentang Mat Soni tidak pernah surut. Kami biasa mendapatkan kabar tentang Mat Soni dari orang-orang yang bekerja di kota.

Ada yang mengatakan, bahwa Mat Soni menjadi pengedar narkoba kelas kakap. Cerita tersebut terus berkembang menjadi tidak masuk akal saat Mat Soni dihubungkan dengan jaringan narkoba internasional. Tidak mungkin, kata Pak Kepala Desa. Semua orang tahu Mat Soni tidak bisa bahasa Inggris.

Kang Cecep yang bekerja di Bandung pernah bilang Mat Soni mati ditembak polisi setelah ketahuan sedang merampok rumah seorang pejabat. Ada kejar-kejaran mobil, tembak-tembakan yang sengit. Mat Soni mati setelah kehilangan jimatnya.

“Emang, apa jimatnya?” tanya salah seorang warga.

“Kalung,” jawab Kang Cecep.

Akan tetapi, dari sekian banyak orang yang membawa kabar Mat Soni, cerita kakekku yang lebih dipercaya.

Kakekku seorang pemasok sayur dan buah-buahan ke pasar-pasar besar di Bandung. Setiap Sabtu kakek pergi bersama anak buahnya untuk mengecek harga pasar, menengok beberapa tokonya dan pulang dengan membawa oleh-oleh untukku. Suatu hari kakek memberitahu, bahwa Mat Soni masih berkeliaran di terminal di Bandung. Datanya didukung berita di koran dan radio. Biasanya berkaitan dengan kabar pembunuhan di pasar atau pertarungan antar geng yang berakhir dengan kematian. Tentu saja cerita kakek membuat orang-orang kampung ketakutan. Di akhir cerita kakek selalu berkata agar semua orang berhati-hati dengan kembalinya Mat Soni. Sayangnya pesan itu malah membuat seisi kampung semakin gelisah.

Aku ingin sedikit bercerita tentang kakekku.

Seisi kampung mengenal kakek sebagai juragan. Ia juga seorang yang jujur. Setahuku, ia hanya sekali berbohong. Yaitu saat menjelaskan alasan kedua orang tuaku menitipkanku padanya. Kakek bilang mereka sibuk dengan bisnis dan membesarkan kedua kakakku. Tapi aku tidak marah pada kakek. Faktanya, aku dititipkan karena keadaan fisikku yang tidak sempurna, jauh berbeda dengan kedua kakakku yang tampan.

Untuk kauketahui, aku terlahir dengan mata kanan picek dan bibir sumbing. Operasi yang pernah kujalani masih meninggalkan bekas di bibir. Aku juga punya cacat lain. Kaki kiriku lebih kecil dibandingkan yang kanan. Kau pastinya bisa bayangkan caraku berjalan.

Hampir setahun aku hidup dalam ejekan teman-teman sekolah. Awalnya menyakitkan, namun lama-kelamaan terbiasa. Mat Soni tahu itu, terkadang ia melihatku dipermainkan teman-temanku. Aku pernah berharap ia akan membantu. Tapi ia tidak pernah. Kecuali melihatku dari kejauhan.

Ejekan-ejekan itu berakhir tatkala mereka tahu aku adalah cucu dari Abah Dahlan yang terkenal, dan sejak saat itu mereka menghormatiku. Tapi aku berharap solusinya tidak seperti itu. Aku tidak ingin menjadi seorang pengecut yang berlindung di bawah nama besar kakek. Aku hanya ingin bertarung dengan mereka; satu lawan satu atau satu lawan lima.

Aku tidak ingin kau bersimpati padaku. Karena tulisan ini bukan kisah Cepi si anak cacat. Ini kisah Mat Soni.

Sayangnya, cerita kakek tentang Mat Soni harus berakhir lebih cepat.

“Tidak ada lagi cerita Mat Soni!” seru kakek di hadapan warga kampung. “Aku tidak ingin kampung kita diisi cerita tidak penting. Ada banyak yang harus kalian kerjaan. Panen sebentar lagi.”

Hari-hari berikutnya tidak ada lagi obrolan-obrolan tentang Mat Soni. Nama Mat Soni berangsur-angsur menghilang.

Hingga di suatu siang di akhir Juni 2008 yang panas, keheningan kampung kami terpecah oleh keramaian di jalanan. Orang-orang membawa pentungan, celurit, golok dan senjata lain. Nama Mat Soni disebut-sebut. Tampak seorang polisi sedang berbicara dengan kepala desa. Aku mencuri dengar obrolan warga dari satu kerumunan ke kerumunan yang lain. Mereka membicarakan topik yang sama: Mat Soni kembali!

Aku bergegas pulang untuk menemui kakek. Namun, begitu tiba di depan pintu gerbang aku baru ingat kakek sedang pergi ke kota. Sampai di sini hatiku bimbang, apakah akan bergabung bersama orang-orang mencari Mat Soni atau berdiam diri di rumah.

“Jang! Masuk ke rumah … kunci pintu!” teriak Mang Jaja.

Aku membuka pintu pagar dan duduk di teras untuk melepas sepatu. Tiba-tiba sesuatu di lantai menarik perhatianku. Sebuah jejak darah?

Dugaanku benar.

Kulihat Mat Soni sedang duduk bersender di lantai ruang tamu sambil memegang perutnya yang berdarah. Selama beberapa saat aku berdiri mematung seolah tidak percaya Mat Soni yang orang-orang bilang kebal senjata ternyata bisa juga terluka.

“Cepi .. Namamu Cepi, kan?” panggil Mat Soni.

Aku mengangguk.

“Kemari …”

Aku tidak berpikir Mat Soni akan melakukan sesuatu yang buruk padaku, jadi aku menghampirinya tanpa rasa takut sedikit pun.

“Bawa aku ke kamar mandi.”

Aku mengikuti perintahnya. Dengan susah payah aku membantunya berdiri dan memapahnya berjalan. Tubuhnya berat, berkeringat dan bau. Sesampainya di kamar mandi ia langsung duduk menggelosor, darah mengucur dari perutnya.

Pemandangan itu cukup mengerikan. Tapi, aku tidak merasa takut sedikit pun.

Mat Soni mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya dan melemparkannya padaku. “Untukmu.”

Sebuah pisau.

“Sial! Si kurus brengsek itu menusukku. Aku tusuk balik. Kutusuk jantungnya satu kali. Kutusuk perutnya tujuh … Tidak, tidak. Tapi sembilan kali. Aku masih bisa merasakannya.” Mat Soni sambil melakukan gerakan menusuk dengan tangan kanannya. “Aku membunuh ketiganya.” Ia tertawa penuh kemenangan.

Setelah itu ia terdiam. Keringatnya mengalir deras, nafasnya tersengal-sengal. Ia batuk beberapa kali sebelum memuntahkan darahnya yang menimpa wajahku. Kemudian ia mentertawaiku. Tapi tidak berapa lama suara tawanya memelan. Keadaan menjadi hening, Mat Soni menatapku. Semakin lama tatapan itu semakin ganjil hingga meresap ke dalam diriku.

Aku tahu Mat Soni mati karena tidak ada nafas yang keluar dari hidungnya.

Aku mengambil pisau milik Mat Soni dan memandangnya dengan penuh kekaguman. Menit berikutnya, keadaan seperti dalam gerakan lambat. Orang-orang berhamburan masuk ke dalam rumah. Entah bagaimana mereka tahu keberadaan Mat Soni.

“Kau membunuhnya! Kau membunuh Mat Soni!”

Sesosok tangan besar menarik lenganku dan membawaku ke luar rumah. Bersamaan dengan itu, aku melihat bayangan masa depanku melintas begitu saja di kepala. Bayangan yang sama dengan yang kualami sekarang, sesaat setelah aku membunuh seorang lelaki dengan pisau Mat Soni. Korban kelimaku tahun ini. Aku melihat Mat Soni tersenyum lagi.

Ali

Ganteng | Tinggal di Bekasi | https://linktr.ee/ali.reza

Tinggalkan Balasan