Krisis Pak Azis

Pak Azis menjadi tukang cukur sejak enam tahun lalu, sebulan setelah berhenti dari pekerjaannya sebagai satpam bank. Penghasilannya lumayan, bisa dua kali lipat dari penghasilannya dulu. Ia sering mengajak pelanggannya mengobrol, kebanyakan tentang politik, sesuatu yang dipahaminya belakangan ini.

Tempat cukurnya sangat sederhana, hanya sebuah kios kecil di lahan tidak terpakai, berjejer bersama warung nasi, bengkel sepeda motor, dan beberapa warung kecil lain. Ada tiga kursi dengan masing-masing tiga cermin di depan. Di dinding belakang menempel sebuah cermin persegi panjang untuk melihat rambut belakang. Di sudut atas ruangan sebuah TV tabung 14 inci yang diposisikan agar bisa dilihat pelanggan. Kipas angin di plafon berputar pelan, foto presiden dan wakilnya terpampang di atas foto model pria-pria tampan dalam poster. Pak Azis selalu meletakkan koran terbaru di atas meja untuk pelanggan yang mengantri.

Siang itu Pak Azis sudah menyelesaikan lima kepala, satu diantaranya pelanggan baru dan seorang anak laki-laki yang menangis. Ia membuka bungkusan nasi makan siang setelah sholat dzuhur, isinya ikan goreng, lalap dan sambal. Tapi, belum sempat memasukkan suapan pertamanya, pelanggan setianya datang.

“Assalamu’alaikum, Pak Azis,” kata Pak Saeful.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Pak Azis meletakkan sendoknya dan bangkit menyambut Pak Saeful dengan ramah. Ia selalu komitmen pada motto yang sengaja ditempel di dinding: Pelanggan adalah prioritas. Ia tahu kata ‘prioritas’ dari tempatnya bekerja dulu.

Pak Saeful tidak tahu Pak Azis sedang makan siang. Dan kalau pun tahu, alih-alih membiarkan Pak Azis meneruskan makan siangnya, ia akan berkata: “Saya lagi buru-buru nih, Pak Azis.”

Pak Saeful duduk di kursi favoritnya. Pak Azis langsung membungkus tubuhnya dengan kain dan menyemprot rambutnya. Ia tahu apa yang akan dilakukannya pada kepala Pak Saeful.

TV menayangkan kegiatan presiden di peresmian jalan tol. Pak Azis antusias mendengarkan pidato presiden idolanya. Namun suara TV kalah keras dengan bunyi dentuman pembangunan gedung yang tidak jauh dari situ. Sambil menyisir kepala Pak Saeful, Pak Azis mengambil remote dan membesarkan volume TV.

“Ekonomi kita akan meroket!” kata Presiden optimis.

Pak Azis tersenyum. Ia paham betul maksud pidato presiden, buktinya ia masih bisa menghasilkan keuntungan, dan lagi pula tepat di belakang tempat cukurnya sedang dibangun sebuah gedung tinggi, pertanda bahwa ekonomi memang masih tumbuh. Kata krisis hanya untuk masalah kecil yang dibesar-besarkan.

“Satu periode lagi, Pak Saeful,” Pak Azis mengomentari. “Semoga saja beliau terpilih lagi.” Ia memotong tipis bagian kanan, lalu dengan hati-hati merapihkan tepian rambut dengan pisau cukur. Pak Saeful hanya manggut-manggut.

Pak Azis masih melayani tiga pelanggan lagi setelah Pak Saeful, kemudian beristirahat sebentar untuk makan siang dan setelah itu menutup kios-nya jam setengah lima. Sepeda motornya diparkir di bawah pohon akasia yang rindang. Bu Yayah, pemilik warung nasi sebelah, juga pulang sebentar lagi, dijemput suaminya.

* *

Mereka duduk di atas tikar untuk makan malam. Istri Pak Azis makan dengan lahap, dua putrinya hanya makan sedikit tapi suka dengan sambalnya. Usai isya Pak Azis menonton siaran langsung debat capres di TV. Pembawa acaranya cantik, secantik kedua anaknya. Pak Azis berharap salah satu dari anaknya akan menjadi pembawa acara TV juga.

Keesokan pagi hujan turun deras. Pak Azis yang biasa memanaskan mesin sepeda motor di pinggir jalan terpaksa melakukannya di teras. Ruang tamu bocor di beberapa bagian, istrinya membawakan dua ember dan satu baskom plastik, sementara Pak Azis mengepel di semua sisi. Dua putri mereka sudah berangkat sekolah.

Tukang koran langganan Pak Azis baru datang jam tujuh, dan seperti biasa Pak Azis membeli dua koran berbeda untuk ditaruh di tempat cukurnya. Ia meninggalkan rumah jam setengah sembilan memakai mantel hujan berwarna kuning.

Hujan turun rintik-rintik ketika ia sampai di tempat cukurnya, cahaya matahari mulai terlihat, warung nasi Bu Yayah masih tutup. Ia membuka tirai, memasang tanda ‘BUKA’ di pintu dan menyapu lantai. Ia mengeluarkan peralatan cukurnya, menyiapkan handuk dan kain penutup tubuh. Ia menyetel TV dan langsung menemukan saluran favoritnya. Belum ada pelanggan hingga jam sepuluh, Pak Azis tidur sebentar.

Ia terbangun ketika seorang pria membuka pintu.

“Tolong potong sedikit, Pak Azis,” kata pria itu menunjuk sisi kanan kepalanya. Ia tahu nama Pak Azis dari plang di depan: ‘Barbershop Pak Azis’.

Pria itu membuka jaketnya, menggantungnya di gantungan dinding dan duduk di kursi tengah. Pak Azis baru akan menyemprot ketika pria itu berkata:

“Sebentar, Pak Azis. “Saya jawab telepon dulu.” Ia bangkit berdiri lalu melangkah ke depan pintu.

Pak Azis bisa mendengar kata proyek, bank, tender dan jumlah uang yang besar. Ia merasa tersanjung, ini pertama kali orang penting datang ke tempatnya.

Pria itu kembali duduk dan menaruh teleponnya di atas meja. “Lanjut, Pak Azis.”

Meskipun Pak Azis berpengalaman menangani bermacam karakter rambut, ia cukup berhati-hati menangani pelanggan yang satu ini. Tidak banyak yang dilakukannya, hanya memotong pinggiran belakang kepala kemudian lanjut ke bagian belakang kuping dan jambang. Ia berhenti sebentar memberi kesempatan pada pria itu untuk bercermin.

Pria itu merasa ada yang kurang, sepertinya jambang sebelah kiri tidak sama dengan di sebelah kanan.

“Potong sedikit saja sebelah sini, Pak,” kata pria itu menunjuk jambang sebelah kirinya.

Pak Azis memandang bergantian dan menganggapnya sudah presisi. Tapi ternyata tidak, pelanggan barunya itu lebih cermat. Ah, mungkin ini efek mengantuk.

Merasa puas dengan layanan Pak Azis, pria itu memberikan seratus ribu rupiah dan menolak uang kembaliannya. Kemudian ia mengambil jaketnya dan menjabat tangan Pak Azis seperti baru saja menyepakati suatu bisnis. Pak Azis tersenyum kecil sambil memandang pria itu naik ke dalam mobilnya.

Tidak jauh dari situ tampak Bu Yayah baru membuka warung nasinya. Pak Azis berkata, “Kok baru buka, Bu Yayah?”

“Rumah saya kebanjiran,” jawab Bu Yayah. “Tadinya nggak mau buka. Tapi kasihan pelanggan saya, Pak.”

Di sisa hari pak Azis menghabiskan waktu nonton TV dan membaca koran. Meskipun hanya mendapatkan lima pelanggan hari itu, menurut hitung-hitungannya ia masih dapat untung lumayan dari pria tampan tadi.

Ia pulang sebelum jam tiga, rencananya ia akan membeli sebungkus martabak manis. Tapi di tengah jalan ban sepeda motornya bocor, ia harus mendorongnya cukup jauh sebelum menemukan tempat tambal ban.

“Ban dalamnya harus diganti,” kata tukang tambal ban.

“Berapa?” tanya Pak Azis.

“Tiga lima.”

“Ya sudah, ganti saja.”

Pak Azis ikut berjongkok mengikuti tukang bengkel yang sedang menyiapkan peralatan. Ia berencana membeli sepeda motor baru, tapi tahun ini ia akan banyak pengeluaran untuk keperluan sekolah anaknya.

Pak Azis membayarnya dengan uang lima puluh ribu, membuat tukang bengkel mencari uang kembalian di tukang bakso. Hujan turun deras ketika tukang bengkel kembali. Tukang bengkel selalu jengkel masalah hujan. Ia bilang pada Pak Azis kalau dalam satu jam hujannya seperti ini terus maka biasanya akan banjir.

Jalanan mulai tergenang, Pak Azis khawatir akan rumahnya yang bocor. Ia mengeluarkan mantel hujan dari dalam bagasi motor dan memakainya. Angin yang kencang membuat kabut air, Pak Azis memacu sepeda motornya pelan-pelan, motor tuanya sulit diajak kompromi dan bisa mati suatu-waktu.

Ember dan baskom sudah bertebaran menampung air bocor di teras dan ruang tamu saat Pak Azis tiba. Kopi dan pisang goreng di meja sudah terhidang untuknya. Pak Azis menyeruput kopi sebelum pergi ke kamar mandi.

Derasnya hujan membuat plafon teras jebol, air mengguyur dan membanjiri lantai teras, potongan-potongan triplek berjatuhan. Dua putri Pak Azis membantu membawa dua ember lagi dan sebuah bak besar. Pak Azis mengumpulkan triplek di lantai dan disandarkan di pagar. Ia memakai mantel hujan, mengambil tangga dan menaiki atap rumah. Ada banyak sampah di atap yang membendung talang. Pak Azis membersihkan dan melemparnya ke jalanan.

Hujan berhenti sebelum maghrib. Lantai rumah Pak Azis tampak kotor, air masih menetes dari atap dan jatuh di ember penuh air. Pak Azis memakai sarung dan baju hangat, duduk menghadap pisang goreng dan kopi di atas meja. Istrinya membuang air tampungan ke jalanan, lalu meletakkan ember kosong di bawah keran depan. Ia menyuruh anak pertamanya pergi ke warung untuk membeli obat demam.

Di usia pertengahan empat puluhan, Pak Azis sebenarnya jarang sakit. Ia selalu berolahraga setelah sholat subuh dengan gerakan-gerakan ringan sambil mengatur nafas. Dulu ketika menjadi satpam ia pergi fitnes setiap Rabu. Sisa-sisa dari latihannya masih ada dalam bentuk tubuh yang tegap. Tapi malam itu ia benar-benar merindukan masa-masa sehatnya. Tubuhnya menggigil, panasnya meninggi dan pilek benar-benar mengganggunya. Obat warung tidak bisa mengurangi penderitaannya. Istrinya menemaninya ke dokter klinik keesokan paginya. Pak Azis sedikit mengeluh tentang sakit di kepala. Dokter bilang ini cuma demam biasa akibat kehujanan dan terlalu capek, beberapa pasiennya juga mengalami hal yang sama.

Tapi Pak Azis sembuh lebih lama dari perkiraan, dan setelah tiga hari barulah ia benar-benar pulih. Ia merindukan tempat cukurnya dan obrolan dengan pelanggan. Ia merapihkan alat cukur, memasukkannya ke dalam tas di atas dua potong kain penutup tubuh dan dua buah handuk, menyelipkan sebotol minyak rambut dan sebuah semprotan air. Tadi malam ia berpikir untuk mengubah gaya memotong rambut. Ia pernah mengintip ke dalam salon dan memerhatikan cara karyawannya memotong. Ia bahkan bisa melakukan lebih baik dari salon itu tanpa menaikkan tarif.

Pak Azis menyantap nasi goreng buatan istrinya dengan lahap. Anak-anaknya tampak sehat, rumahnya masih berdiri kokoh. Hari ini tidak ada yang perlu dirisaukan, matahari bersinar cerah, udara pagi menyegarkan paru-paru. Ia hanya sedikit cemas masalah tangannya yang terasa kaku setelah beberapa hari tidak memegang gunting. Sepanjang perjalanan ia memikirkan pelanggannya. Ia kangen ngobrol dengan Pak Dasril atau mendengarkan lelucon Pak Maman. Ia bahkan ingin ngopi di warung Bu Yayah sambil mencuri dengar obrolan para pekerja proyek.

Perjalanannya pagi itu seharusnya lebih singkat jika tidak ada rombongan truk mengantri masuk ke area proyek dan membuat macet jalanan. Padahal tinggal beberapa meter lagi Pak Azis tiba di kios cukurnya. Klakson mobil bersahutan, Pak Azis juga ikut membunyikan klakson. Sinar matahari sangat terik dan ia mulai kegerahan. Setelah beberapa lama menunggu, ia memilih menepikan sepeda motornya di depan toko mebel untuk menunggu jalanan lebih lengang. Di tempat itu, seharusnya ia bisa melihat kios cukurnya dan warung nasi bu Yayah.

Tapi kini tidak ada lagi kios cukurnya di sana. Tidak juga warung nasi Bu Yayah. Kecuali tempat kosong yang dibuat jalan masuk lahan proyek. Tidak ada yang memberitahu siapapun. Pak Azis memang kecewa, sangat kecewa. Namun ia tidak marah. Setidaknya ia masih bisa bersyukur. Kemarin sore, para tukang ojeg sudah mengamankan barang-barang miliknya atas permintaan kontraktor proyek yang pernah potong rambut di kios cukurnya beberapa hari lalu.

“Apakah kita sedang krisis, Pak?” tanya istri Pak Azis.

“Ya, kita benar-benar sedang krisis,” jawab Pak Azis.

* * *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *