Ada Zombie di Sekolah

Jumat lalu, Pak Hartono – kepala sekolahmu – memanggilmu ke ruangnya karena kamu sudah bolos tiga hari berturut-turut.

Pak Hartono tidak pernah bosan melihatmu, tapi kamu bosan berada di ruangan itu. Pak Hartono memakai peci hitam dan kemeja batik seperti biasa. Kumisnya bergerak turun-naik, ludahnya berterbangan saat bercerita tentang masa kecilnya membantu sang ayah di sawah dan perjuangannya berjalan kaki sejauh 7 km menuju sekolah. Tapi kamu tidak mendengarnya, matamu terpaku pada seekor lalat di peci Pak Hartono.

Makhluk yang mengerikan, katamu dalam hati, merujuk pada mata si lalat yang merah menyala. Pikiran liarmu membayangkan monster kecil itu terbang masuk ke dalam telinga Pak Hartono untuk menyebarkan virus di otaknya. Selanjutnya Pak Hartono akan terdiam seperti patung, matanya berputar-putar dan tidak berapa lama kepala sekolahmu sudah sepenuhnya menjadi zombie.

Kamu berkata dalam hati: Sial! Aku harus mencegahnya. Kemudian, kamu mengambil buku di atas meja lalu dengan cepat melayangkannya ke kepala Pak Hartono.

“PLAK!”

Pak Hartono terhuyung, pecinya miring ke kiri, dan untuk beberapa saat pandangannya berkunang-kunang.

Kamu cukup keras memukulnya, maksudku sangat keras hanya untuk membunuh seekor lalat. Tapi sayangnya kamu masih kurang cepat karena lalat itu bisa melarikan diri.

Setelah kembali normal Pak Hartono membetulkan posisi pecinya. Dia mencoba memahamimu dan menganggapmu sedang mengalami hari-hari yang berat.

“Bapak tidak menyalahkanmu, Nak,” kata Pak Hartono, matanya beberapa kali berkedip cepat. “Kamu sebenarnya anak yang baik. Kamu hanya butuh perhatian.”

Kemana lalat itu? katamu dalam hati, memandang berkeliling mencari-carinya.

“Bapak dulu juga pernah nakal,” Pak Hartono kembali bercerita tentang masa kecilnya. “Waktu itu bulan puasa. Bapak sengaja memukul beduk setengah jam lebih cepat …,” kemudian perlahan-lahan suara Pak Hartono semakin samar terdengar.

Kamu punya teori sendiri tentang lalat tadi: Pertama, benda itu adalah robot yang memiliki kaki-kaki listrik yang dapat membuat manusia patuh pada perintah pengendalinya. Kedua, benda itu hasil dari mutasi sebuah percobaan gagal tapi menciptakan jenis virus baru yang bisa menyebabkan wabah zombiloma.

“ … dan seperti itulah kisahnya,” kata Pak Hartono mengakhiri kisahnya. “Bapak harap bisa menjadi pelajaran buatmu. Nah, sekarang kamu boleh kembali ke kelas.”

Tapi kenyataannya suara Pak Hartono sama sekali tidak terdengar karena kamu mengawasi lalat lain di sudut meja.

“Nak, … kau boleh keluar,” Pak Hartono mengulangi.

Tanganmu menarik buku di meja dan siap untuk melayangkan pukulan baru. Diamlah kau di sana, makhluk jelek!

“Nak?!” Pak Hartono berkata dengan lebih keras. Beliau belum pernah berkata sekeras itu kepada muridnya.

Kamu terhenyak, dan lalat itu pun menghilang. Sial!

“Kamu boleh keluar.”

Kamu bangkit tanpa mengucapkan kata maaf atau terima kasih, dan setelah itu pergi keluar ruangan dengan penuh kecemasan.

* * *

Nama kamu Janu, nama belakangmu Santoso, yang juga berarti nama Ayahmu. Kamu tinggal bersama kedua orang tuamu, seorang adik laki-laki berusia 4 tahun dan seorang asisten rumah tangga berusia 47 tahun yang sudah bekerja di rumahmu sejak kamu dilahirkan.

Kamis pagi lalu, sehari setelah kamu berulang tahun keempat belas, ibumu menyuruhmu segera keluar dari kamar mandi. Nasi goreng buatan Bik Asih sudah siap, aromanya bahkan sampai ke hidung kamu. Tapi hari itu kamu tidak ingin sarapan, tidak juga ingin keluar dari kamar mandi. Kamu hanya ingin tidak pergi ke sekolah.

Ibumu tidak tahu apa yang membuatmu lama di kamar mandi, padahal sebenarnya kamu benci air. Sudah hampir satu jam, bahkan Deni, adikmu, harus pakai kamar mandi lantai atas buat pup. Kamu tidak menjawab panggilan ibumu yang sedang berdandan. Ibumu tampil cantik hari itu, dia akan pergi arisan di jam 10.

“Janu sudah keluar, Bik?” tanya ibumu pada Bik Asih. Dia mengoles lipstik no. 16 kesukaannya, warna merah menantang yang membuat iri para kenalannya.

“Belum, Bu,” jawab Bik Asih.

Tidak ada raut cemas di wajah ibumu. Dia membuka lemari dan mengambil tas Channel merah hadiah ulang tahunnya dari ayahmu.

Bik Asih sangat khwatir padamu. Dia mengambil inisiatif pergi ke kamar mandi dan mengetuk pintu kamar mandi.

“Mas Janu,” panggilnya, “sudah jam tujuh. Nanti terlambat sekolah.”

F**k the school, katamu dalam hati.

Bik Asih mengetuk sekali lagi dan setelah itu memutar knop pintu. Ternyata kamu tidak mengunci pintunya. Jantung Bik Asih berdegup lebih kencang. Dia teringat pernah melihat berita di TV tentang anak yang bunuh diri di kamar mandi. Tangannya ragu untuk membuka pintu, tapi dia terus memberanikan diri. Pintu terbuka perlahan, cukup lebar untuk menengokkan sedikit kepalanya ke dalam. Dia melihat ujung kakimu. Lalu dia membuka pintunya lebih lebar lagi dan menemukanmu terbaring telanjang bulat di lantai dengan mulut berbusa!

Teriakan Bik Asih terdengar ke seluruh sudut rumah, mengganggu ibumu yang masih asik berdandan.

“Ada apa lagi sih?” kata ibumu kesal.

Ibumu, yang sudah memakai sepatu hak 17 inci, berjalan melewati adikmu yang tidak terpengaruh teriakan Bik Asih. Tiga menit kemudian dia sudah tiba di depan kamar mandi. Dia terpaku sebentar melihat kondisimu yang mengerikan, dan setelah itu ikut berteriak histeris.

Dua puluh menit kemudian kamu sudah berada di dalam ambulan yang berlari kencang. Kamu suka dengan suara sirine karena itu berarti menyingkirkan mobil-mobil lain ke pinggir jalan; tubuhmu tertutup kain, badanmu terasa lengket di atas matras.

Hanya ada Bik Asih yang menemanimu, sedangkan ibumu mengekor di belakang dengan Yaris silver pemberian ayahmu di ulang tahunnya yang ke empat puluh. Tapi kurasa kata mengekor tidak tepat karena ibumu tertinggal 5 kilometer di belakang.

Wajahmu pucat, tanganmu dingin, tapi kamu masih bisa mendengar isak tangis Bik Asih yang sesekali meminta maaf padamu.

Kamu merasa tidak enak dan merasa bersalah padanya. Kamu pernah memasukkan garam yang sangat banyak ke dalam mangkuk sup ayahmu. Ayahmu hampir saja memecat Bik Asih. Tapi hanya itu yang kamu ingat dari ratusan kesalahan yang kamu lakukan terhadap Bik Asih. Kamu ingin minta maaf, tapi itu akan mengacaukan rencanamu. Dan sebagai gantinya, kamu memegang tangan Bik Asih untuk menenangkannya.

Perlu beberapa detik sebelum Bik Asih menyadari ada sesuatu yang dingin merayap di atas tangannya. Dia berteriak keras sekali, tapi tidak lebih keras dari suara sirine sehingga sang supir sama sekali tidak mendengarnya. Kamu ingin tertawa, tapi itu malah akan mengacaukan rencanamu.

Ketika ambulanmu tiba di rumah sakit, dua orang perawat dan seorang dokter datang menyambutmu.

“Pasien jatuh di kamar mandi, mulutnya berbusa,” kata perawat laki-laki berambut keriting, “kemungkinan keracunan.”

Dokter memeriksa kedua matamu dengan senter kecil. Kamu berusaha tidak mengedip dengan memasukkan bola hitam matamu ke atas. Seorang perawat cantik datang membantu saat kamu memasuki ruang UGD. Dokter mengatakan sesuatu padanya, lalu perawat itu pergi ke bagian lain. Stetoskop bergerak di sekitar dadamu, jantungmu berdegup sangat kencang.

Perawat cantik kembali dengan sebuah suntikan. Kamu berpikir ini akan seperti dalam film Resident Evil ketika dokter menyuntikmu dengan Virus T buatan Umbrella yang akan membuatmu jadi zombie. Tapi kamu tidak takut jarum suntik. Kamu pernah melewati hari-hari dengan jarum suntik saat imunisasi dan khitanan.

Jarum suntik itu bersinar di bawah sinar lampu, setetes cairan bening keluar dari ujungnya. Lenganmu terasa dingin saat perawat cantik mengusap lenganmu dengan kapas dan alkohol. Kemudian dokter mengangguk padanya seolah mengatakan: ‘Ini saatnya’.

Tapi jarum itu tidak akan pernah menembus kulitmu dan kamu tidak akan merasakan sakit yang luar biasa. Kamu melompat turun, kain penutup tubuhmu jatuh, dan kamu berlari ke luar rumah sakit. Itu bukanlah pemandangan yang indah melihatmu telanjang, tapi itu satu-satunya cara supaya kamu bisa lari dari jarum suntik.

Semua mata tertuju padamu, termasuk ibumu yang baru saja tiba di tempat parkir. “Stupid kid,” kata ibumu tanpa tahu siapa yang dimaksud.

* * *

Memukul kepala sekolahmu tentu saja tindakan bodoh, tapi kamu tidak pernah merasa bersalah. Makhluk itu mungkin saja berasal dari percobaan seorang profesor gila. Jika memang begitu, maka kamu sekarang sedang mengkhawatirkan teman-teman sekelasmu.

Pelajaran matematika sedang berlangsung ketika kamu kembali dari ruangan kepala sekolah; Pak Asep yang mengajar.

Perlu diketahui, ada tiga Pak Asep yang mengajar matematika di sekolahmu: Pertama, Pak Asep Hidayat yang bertubuh pendek, berkumis tipis dan berambut klimis. Kedua, Pak Asep Saepudin, guru matematika lainnya, yang sedikit lebih tinggi dari Pak Asep Hidayat dan cukup gemuk hingga dua kancing di perutnya tidak bisa mengunci. Dan yang terakhir bernama lengkap Asep Permana, guru matematika yang sedang mengajar di kelasmu. Dia paling tinggi dari keduanya, rambutnya agak gondrong dan terlalu serius. Karena tidak efisien memanggil ketiganya dengan nama lengkap, maka mereka lebih dikenal dengan Pak Asep 1, Pak Asep 2 dan Pak Asep 3 sesuai dengan urutan yang kusebut tadi.

Kelas mendadak berubah sepi saat kamu menyelonong masuk dan dengan santai duduk di kursi baris kedua.

“Keren,” kata Deden, teman satu mejamu.

“Sialan,” kata Rino.  “Yang kamu pukul itu ayahku.”

“Lain kali, kamu yang kupukul,” katamu.

“Anak-anak, … sudahlah,” kata Pak Asep 3 menenangkan kalian. “Ini hanya masalah matematika. Janu mungkin salah hitung. Bukan begitu, Janu?”

Kamu tidak menjawab. Bagimu, matematika adalah sesuatu yang sangat mudah dan membuatmu penuh perhitungan sehingga apa yang dikatakan Pak Asep 3 barusan pastinya salah. Kamu hanya memikirkan lalat itu dan tidak lama lagi akan ada kejadian mengerikan di sekolahmu.

Sebenarnya gambaran zombie dalam pikiranmu sudah ada sejak dua minggu terakhir. Dimulai dari  trailer film Resident Evil terbaru yang kamu tonton di TV, lalu tanpa sengaja melintas di depan festival zombie di mal pada hari Sabtu, menyaksikan seorang pria tua yang tiba-tiba jatuh di depanmu saat mengantri di ATM, melihat poster-poster zombie dan mendengar obrolan seputar film Walking Dead di sekolah, dan terakhir tentu saja peristiwa lalat itu. Awalnya kamu menganggap kejadian itu sebagai sesuatu yang biasa, seperti kamu melihat mobil berwarna merah tujuh kali berturut-turut Senin lalu. Tapi entah kenapa perasaanmu tidak karuan saat melihat penjaga sekolah terbatuk-batuk.

“Apa yang terjadi kalau lalat menggigit kita?” tanyamu pada guru biologi.

“Biasanya iritasi, tapi juga bisa menularkan penyakit seperti …”

“Mencret,” kamu memotong. Hmm, sepertinya itu bukan kata yang tepat. Diana, temanmu yang bertubuh gemuk, langsung merasa mual. “Berapa lama?”

“Ibu tidak yakin kamu tidak pernah diare. Kalau langsung diobati, tidak sampai berjam-jam.”

“Bagaimana kalau lalat itu menggigit dan mengubah ibu jadi zombie?”

“Kamu terlalu banyak nonton film, Nak.”

“Tidak. Tapi ibu yang tidak tahu. Berapa lama ibu kuliah? 8 atau 9 tahun? Semua yang ibu pelajari hanya omong kosong. Ibu seharusnya tahu yang jadi pertanyaan berikutnya adalah ‘apa virusnya’?”

“Bakteri, virus, apa pun itu tidak ada yang namanya zombie.”

“Ada.”

“Tidak ada.”

“Ada!”

Gurumu menepuk dahinya. “Oh Tuhan! Kenapa mereka harus syuting di sekolah, katanya dalam hati.

* * *

Kamu lagi-lagi malas untuk pergi ke sekolah; bunyi klakson mobil ibumu terdengar membosankan.

Kali ini kamu tidak ingin berperilaku konyol seperti pura-pura pingsan di kamar mandi. Kamu sudah berpakaian rapih dan siap berangkat, tapi kakimu terasa berat untuk melangkah.

Ibumu memakai kacamata hitam seperti biasa, dan sambil menyetir dia mengoles lipstik dan membedaki wajahnya. Dia bicara tentang teman arisannya yang baru pulang dari Roma. Anak perempuannya yang bernama Michelle adalah teman sekolahmu.

Tapi kamu jarang sekali bicara dengan Michelle. Meski begitu Michelle menyukai sikapmu yang dingin dan sangat mengagumimu. Itulah alasan lain kamu membencinya.

“Ibu dengar Michelle dapat peran utama,” kata ibumu, mengoles kutek di atas setir. “Ini pertama kali dia main film horor. Ibu nggak sabar mau lihat filmnya nanti.”

Tapi kamu cuek, pikiranmu masih tertuju pada sesuatu yang mengerikan yang akan terjadi di sekolah: zombie-zombie menyerang sekolah dan memakan seluruh guru dan siswa.

Kamu tiba di sekolah cukup pagi, ibumu ingin memberikan ciuman, tapi kamu tidak suka ada lipstik di dahimu. Kamu membuka pintu buru-buru dan meninggalkan ibumu yang sedang melambaikan tangan.

Ketika bel pertama berbunyi kamu tidak langsung melangkah menuju kelas tapi pergi ke arah lorong menuju toilet guru, satu-satunya tempat yang kamu percaya tidak akan ada gangguan.

Itu bukan pertama kalinya kamu ‘menetap’ di sana. Bulan lalu, tanpa sengaja kamu pernah mendengar guru bahasa dan guru matematika sedang membicarakan kamu di tempat itu. Suara guru bahasa terdengar marah saat di dalam kelas kamu pernah menyebutnya seorang penyair kampungan. Tapi guru matematika yang kamu kenal suaranya sebagai Pak Asep 2 malah memujimu sebagai anak pandai dan penuh perhitungan.

Kamu juga pernah mendegar perselingkuhan guru kimia dengan guru olah raga yang tentu saja tidak bisa kuceritakan di sini. Tapi apa yang ingin membuatmu ingin berada di tempat itu adalah karena obrolan telepon tentang lalat dan percobaan biologis yang lepas di sekolahmu sehari sebelum kamu dipanggil kepala sekolah. Kamu sama sekali tidak mengenali suara pria itu. Dia sepertinya bukan guru atau karyawan sekolah. Kamu hanya mengenali sepatu hitamnya yang mengilap dengan metal di ujung.

Tampaknya pikiranmu terlalu lelah dan toilet itu jadi tempat yang cukup nyaman untuk tidur. Ini kali pertama dalam dua minggu terakhir kamu bisa tidur nyenyak.

* * *

Entah sudah berapa lama kamu tertidur, kamu terbangun setelah mendengar begitu banyak teriakan di luar.

Kamu membuka pintu perlahan dan mengintip keluar, tapi tidak menemukan siapapun di sana. Dari lorong kamu bisa melihat ke sebagian lapangan basket yang dipenuhi orang-orang berlarian. Terdengar bunyi letusan, asap tipis menghalangi pandanganmu. Tentu saja melihat mayat hidup bukan menjadi sebuah kejutan bagimu. Terlambat, hanya itu kata yang bisa kamu ucapkan. Kamu menyesali mengapa tidak mencegahnya dari awal.

Alarm meraung-raung, spinkler mengeluarkan air di sepanjang lorong dan kelas, kamu merapat ke dinding lalu melangkah dengan sangat hati-hati.

Dalam situasi seperti ini tidak sedikit orang yang bertindak ceroboh atau sok menjadi pahlawan. Tapi tindakan pahlawan tetap diperlukan, bahkan jika itu berarti membunuh teman-teman zombie-mu sendiri.

Di hadapanmu muncul barisan zombie berseragam sekolah dengan wajah-wajah mengerikan, suara menggeram dan lapar. Kamu satu-satunya hidangan yang tersedia di tempat itu.

Mereka berjalan sangat lambat.

Kamu bisa saja melewati mereka dengan mudah dan pergi menuju pintu gerbang, tapi kemungkinan selamat sangat kecil karena kamu tidak tahu seberapa banyak lagi zombie-zombie lainnya yang sudah menunggu. Kamu memutuskan bergerak ke arah selatan, genangan air menghambat langkahmu.

Kamu berlari melewati kelas-kelas yang sepi dan berbelok menuju arah tangga. Namun belum sempat kamu menaiki anak tangga, kamu melihat seorang pria dewasa dengan sepatu hitam mengilap dengan metal yang pernah kamu lihat di toilet di pinggir lapangan basket. Pria itu menatapmu, tapi kamu tidak peduli dan mulai menaiki anak tangga.

Kini kamu sudah berada di lantai 2. Meski begitu, kamu masih belum bisa melihat jelas apa yang terjadi di bawah karena masih terhalang asap. Di bawah, bayangan-bayang bergerak tidak karuan dan teriakan-teriakan semakin terdengar jelas. Kamu berlari lagi menuju ke lantai 3, lantai tertinggi di sekolahmu. Di sana kamu bisa memilih tempat bersembunyi yang aman; di ruang auditorium atau perpustakaan.

Pikiranmu kalut, bayangan kemungkinan kamu menjadi santapan zombie terlintas di kepalamu. Tapi kamu tidak akan membiarkan dirimu digigit zombie, tidak sedikit pun, atau, lebih baik kamu mati daripada hidup menjadi mayat berjalan.

Terdengar bunyi tembakan terdengar berulang-ulang, tapi kamu masih belum bisa melihat jelas apa yang sedang terjadi di bawah.

Kamu beruntung menemukan tongkat bisbol di dekat pintu masuk perpustakaan. Entah bagaimana benda itu bisa ada di depan ruang perpustakaan, tapi kamu tidak ingin berpolemik tentang siapa yang meletakkannya. Kamu mengambilnya dan mengayun-ayunkannya sejajar dengan kepalamu, posisi yang tepat untuk melumpuhkan zombie. Kini kamu lebih percaya diri bersama tongkat itu.

* * *

Keberanianmu diuji saat pintu auditorium terbuka, disusul kehadiran makhluk yang selama ini kamu cemaskan.

Zombie itu seusia denganmu, seorang siswi berambut panjang. Mungkin kamu pernah mengenalnya atau dia yang mengenalmu, tapi kenyataan bahwa dia sesosok zombie mengaburkan rasa pertemanan. Kamu tidak perlu pikir panjang untuk menghantam kepalanya dengan tongkat bisbolmu.

Tapi inilah yang terjadi ketika kamu berpikir sudah mengalahkannya.

Zombie itu berteriak kencang dan setelah itu ambruk. Awalnya kamu ragu untuk mendekati, tapi gerakan nafasnya membuatmu merasa bersalah.

“Michelle!” teriak seseorang di depan pintu. “Oh Tuhan, apa yang terjadi.” Tidak berapa lama zombie-zombie lain berdatangan keluar dari auditorium dan berkerumun di sekitar tubuhnya.

Kamu menjatuhkan tongkat bisbol dan melangkah mundur.

“Kamu memukulnya,” salah satu dari mereka berkata.

Kini semua mata memandangmu. Zombie-zombie itu terlihat marah dan siap menyerangmu.

Kamu mengambil tongkat bisbolmu kembali dan mengacungkannya kepada mereka, tapi kamu tidak mungkin menghabisi mereka semua.

Zombie, meski terkesan lambat, sangat kuat dan berbahaya; satu gigitan kecil bisa fatal akibatnya. Kamu bergerak mundur dan berlari ke ujung lorong. Sayangnya kamu tidak menemukan jalan lain lagi di sana. Hidupmu bisa berakhir di situ sebagai zombie, atau … kamu bisa memilih cara lain yang tidak lebih baik.

* * *

Hanya ada dua orang yang pernah melompat dari lantai 3 sekolahmu selama 27 tahun sekolahmu berdiri: Pertama, seorang siswa angkatan 1995 yang mengira dirinya Superman dan kedua adalah kamu.

Meskipun tubuhmu jatuh sangat cepat, kamu merasa lambat saat melayang. Kamu punya cukup waktu mengingat kejadian-kejadian selama beberapa hari terakhir: tentang poster-poster di sekolah, syuting film zombie di sekolahmu, ucapan ibumu tentang film baru Michelle, dan pemilik sepatu hitam mengilap itu, sang sutradara film. Tentu saja kamu tidak mengenali pria itu karena kamu absen ketika dia datang ke kelasmu untuk menjelaskan rencana syuting di sekolah.

Tubuhmu menghantam di pinggir lapangan basket, kepalamu retak di sebelah kanan, kaki dan tanganmu patah, tulang rusuk menusuk paru-paru dan jantung, darahmu terus mengalir semakin jauh. Kamu hanya bernafas sebentar, meniup genangan darahmu sendiri, dan setelah itu kamu terdiam untuk selamanya.

* * * *

 

 

Beruang Kutub

Hanya cedera ringan, sakitnya tidak bisa mengalahkan kecemasan, seperti nafas yang tertahan udara dingin. Matahari tidak menghangatkan, tidak ada burung atau rerumputan hijau. Tidak menyenangkan memang, tapi Steve berusaha untuk tenang. Matanya masih terpejam, entah sampai berapa lama, mungkin selama-lamanya atau hanya beberapa menit. Salju tidak bertambah tinggi, sebagian menutupi wajah dan membenam tubuhnya, sesekali angin menyapunya.

“Oh, sial punggungku.”

Dia terlalu berlebihan mengucapkannya. Tidak ada tulang punggung patah atau luka parah, kecuali emosi ketakutan pada kesepian yang membuatnya selalu mengeluh sakit di punggungnya. Dia memang terjatuh dari helikopter. Jatuh di ketinggian rendah dan mendarat di landasan salju empuk dengan sedikit benturan pada punggungnya tepat di atas senapan. Satu jam lalu dia bersama WWF memasang alat pemantau dan memberi nama pada salah satu beruang kutub jantan: Bearie Polie.

Saat ini, beruang kutub bukanlah boneka besar lucu yang ingin dia peluk dan mengajaknya bermain seperti yang selalu diimpikannya waktu kecil. Sebelum terjebak di tempat ini, terkadang, dia merasa lucu mengingat masa kecilnya: menonton saluran Discovery dan tidak pernah melewatkan tayangan beruang kutub. Ayahnya membelikannya sebuah boneka beruang kutub besar padahal dia pernah melarang semua anak laki-lakinya bermain boneka. Tapi boneka beruang kutub adalah pengecualian.

“Lihat adikmu Jim. Dia ingin menjadi ahli beruang kutub,” ayahnya berkata saat melihatnya serius menonton saluran Discovery tentang mencegah kepunahan beruang kutub.

“Steve akan bergabung dengan WWF, Dad.”

Ayahnya dan Jim, mereka para peneliti, ahli biologi, sementara Steve adalah generasi ketiga pelengkap keluarga pecinta hewan (kakeknya ahli burung, ayahnya ahli reptil dan Jim ahli ikan). Dia memang pecinta hewan tapi bukan ahli beruang kutub atau hewan-hewan Arctic lain. Dia seorang ahli keuangan perusahaan perangkat lunak komputer yang membiayai ekspedisi perlindungan beruang kutub selama tiga tahun. Tahun ini adalah tahun keduanya dan dia harus memastikan tidak ada lagi beruang kutub berkurang karena perburuan atau kekurangan gizi (Hei, siapa yang membuat laporan beruang kutub kekurangan gizi?).

WWF mengajarinya memakai peralatan canggih mereka dan menanam sinyal pada beruang kutub. Sayangnya mereka belum mengajarinya bertahan sendirian di Arctic atau cara membuat beruang kutub tertawa. Dia berharap hari ini bukanlah hari terakhirnya, setidaknya bukan kelaparan yang akan membunuhnya mengingat dia jatuh bersama beberapa makanan kaleng, senapan berburu dan beberapa alat mahal WWF.

Untuk beberapa lama dia merasa lebih baik. Angin bertiup lembut, matahari bersinar langsung ke wajahnya, menghapus bayangan gelap kesengsaraan pikiran. Bunyi dari sebuah kotak hitam digital di sampingnya terdengar nyaring. “Bip … Bip … Bip …”  Suara itu? dia berkata dalam hati, masih memejamkan mata, memerhatikan lebih dalam dan merasakan iramanya seperti sedang mendengar musik yang lama tidak terdengar. Itu adalah bunyi PBIS (Polar Bear Position & Information Systems) buatan Jerman seharga lima belas ribu dolar yang dilengkapi data-data terbaru termasuk suhu tubuh, berat badan, makanan terakhir beruang kutub plus peta digital, GPS dan internet, hanya diproduksi sebanyak dua puluh unit dan dimiliki WWF dan universitas ternama di dunia. Dia merasa ada harapan untuk kembali menemukan rekan-rekannya. Dia bisa mengetahui posisi dirinya, kapalnya dan beruang kutub pantauan mereka. Titik hijau di layar menandakan posisi beruang kutub pantauan dan titik merah adalah posisi alat ini. Kabar buruknya, titik hijau itu sedang bergerak ke titik merah … ke arahnya!

“Sial!”

Steve memejamkan matanya, menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan hingga dapat merasakan jantungnya bergerak normal. Dia membuka matanya dan menghitung aba-aba dalam hati, 1 … 2… 3. Dia bangkit secepat kilat, menyambar senapan, membidik lurus ke arah datangnya beruang kutub, kaku seperti patung dengan hanya jari telunjuk yang dibiarkan lemas agar tidak terlalu kaku saat menarik picu. Sesuatu yang dia pikirkan hanyalah seekor beruang kutub yang sedang berlari empat puluh kilometer per jam menuju ke arahnya dan dia akan mengejutkannya dengan sebuah tembakan tepat di kepala.

Dia memasang matanya lurus dan tajam, tangannya mantap membidik dan akan tetap seperti ini sampai titik hijau menjauh dari posisinya. Lupakan sakit punggung. Lupakan coklat panas. Lupakan piza dengan keju tebal di atasnya. Lupakan Pamela Arenstein, lupakan laporan keuangan tahunan, lupakan bosnya, lupakan perjalanannya ke Hawaii bulan depan.

Kabut menyelimuti, uap dingin menutupi layar PBIS. Dia menurunkan senapannya perlahan, lalu dengan hati-hati mengambil PBIS. Dia membuat gundukan salju dan meletakkan PBIS di atasnya sehingga bisa melirik posisi beruang kutub sambil membidik. Monster itu berjarak sepuluh kilometer di depannya, bergerak menuju tempatnya.

Dia memutuskan berjalan memutar untuk memperpanjang jarak dari beruang kutub. Oh Tuhan, seberapa jauh sih dua puluh kilometer itu di hamparan Arctic?

Dia menatap langit, mengeluh lagi tentang punggungnya dan lehernya yang serasa patah. Mungkin dia hanya akan bertahan hingga satu jam, dan empat jam kemudian beruang itu menemukannya sudah menjadi daging beku.

“TOLONG!” dia berteriak sekeras-kerasnya. Suaranya termakan angin dan berharap angin tidak membawanya ke telinga beruang kutub. Jika Arctic adalah tempat terakhir hidupnya, mungkin ini adalah tempat yang tepat untuk buat pengakuan. Dia bukan seorang yang religius, tapi dia mencoba jujur. Sedikit pengakuan mungkin akan membuatnya lebih baik. Mungkin Tuhan akan menolongnya.

“JEEE … NYYY! …. M’AFKAN AKU!” teriaknya. Kedengarannya sih konyol. “AKU BOHONG PADAMU!”

Jenny adalah istrinya dan tidak akan mungkin mendengarnya. Tapi dia meragukannya karena Jenny percaya pada tahayul dan telepati. Beberapa kali indra keenam istrinya berfungsi baik, beberapa kali mendekati kenyataan dan hanya sedikit yang salah. Selingkuh termasuk yang mendekati kenyataan. Sebenarnya Steve tidak selingkuh. Waktu itu dia hanya mengajak Pam makan malam, sedikit diskusi masalah pembiayaan ekspedisi dan masa depan Arctic, lalu pergi ke apartemen Pam, sedikit bicara penelitian dengan sedikit ciuman di bibir dan pelukan seorang teman dengan tiga kancing baju Pam terbuka (hanya sedikit ciuman dan baru tiga kancing terbuka karena selularnya bernyanyi dan menemukan nama Jenny Sayang di layar). Jenny mendengar desahan Pam, tapi Steve menyangkalnya dan mengatakan suara itu datang dari televisi.

“Aku bersama Jim. Lihatlah saluran 88,” ujar Steve. Di rumahnya belum ada saluran delapan- delapan. Tapi siapa peduli? Lagi pula istrinya tidak akan menemukannya.

Jadi, dia tidak bercinta dengan Pam? Tentu tidak (karena Jenny menelponnya). Jauh di dalam hatinya dia tidak akan mengkhianati Jenny. Dia mencintai istri dan anak laki-lakinya, dan dia akan bicara jujur dan minta maaf padanya walaupun dia akan mendapatkan istrinya berdiri di depan pintu dengan tongkat bisbol, mengucapkan selamat tinggal dan setelah itu membawa Dennis pergi. Itu pun kalau dia selamat.

Angin tenang, hanya berupa hembusan-hembusan kecil, kabut tipis masih menyelimuti. Tidak ada yang berbeda, hanya hamparan putih, bahkan jejaknya pun sudah terhapus. Arctic seharusnya menjadi tempat tercinta. Dia boleh mati di tempat ini karena dia mencintainya. Orang-orang di seratus tahun ke depan mungkin tidak akan melihat tempat indah ini. Semua orang tahu itu: efek rumah kaca, polusi, lapisan ozon menipis, suhu air laut naik, es cepat mencair di musim semi.

* *

Tidak ada bunyi “bip”, tidak juga titik hijau. Itu bisa berarti dirinya sudah berada jauh dari beruang kutub. Titik hijau itu adalah milik Bearie Polie. Data menunjukkan beruang kutub jantan ini ada banyak kemajuan: suhunya stabil, beratnya naik menjadi delapan ratus empat puluh pound.

Well temanku, sepertinya kau harus mengurangi berat badan.”

Sial! Teman? Bagaimana bisa aku mengatakan beruang kutub seorang teman pada saat terdampar sendirian di Arctic?

Mendadak sebuah sapuan angin bertiup kencang menghempas debu-debu salju ke wajahnya. Dia masih mencoba bertahan, menghindari pusing dengan apapun caranya.

Ketika keajaiban Arctic menciptakan ilusi, dia menemukan sebuah kafe dan coklat panas berjarak tidak jauh dari tempatnya berdiri jika dilihat dari asap yang keluar dari cerobongnya. Tapi dia berpikir coklat panas akan membuatnya mengantuk. da butuh sedikit yang lebih segar dan menyehatkan. Mungkin secangkir kopi buatan istrinya?

Oh Jenny sayang, maafkan aku. Aku tidak selingkuh kok. Aku hanya mencintai Pam. Pam cinta Arctic, dia cinta beruang kutub. Mencintai Arctic dan beruang kutub berarti mencintai Pam. Sebuah logika yang aneh bukan, sayang? Ngomong-ngomong apakah Dennis sudah tidur? Sampaikan cium dariku.

Steve jatuh dan tertidur.

Beberapa menit kemudian tubuhnya sudah setengah terkubur, angin menyapu salju-salju tipis di wajahnya. Kondisinya tidak lebih baik saat dia terbangun dengan perut lapar. Dia ingat masih menyimpan dua makanan kaleng yang tadinya bersumpah tidak akan memakannya. Dia membuka dengan pisau lipatnya dan mencongkel makanan yang sudah mengeras. Rasanya tidak terlalu buruk, dan dia berterima kasih pada teknologi.

Kemudian setelah itu dia menyibukkan diri dengan membersihkan senapan, lalu mengujinya tanpa peluru dan memastikan semuanya lancar. Bisa kaubayangkan membidik monster putih lalu tiba-tiba senapannya macet? Itu pasti akan benar-benar mengerikan.

Setelah itu dia menunggu: menunggu orang-orang yang akan menjemputnya atau menunggu beruang kutub yang akan memangsanya. Tapi dia meragukan yang pertama. Menunggu adalah pekerjaan membosankan. Dia bisa mengerjakan hal lain sambil menunggu. Mungkin PBIS menyimpan data-data lain, seperti gambar porno, musik atau game. Tapi kengerian tetap menjadi kengerian meski banyak hal untuk mengalihkan perhatiannya.

Sial! Apa yang sedang kulakukan? Aku-kan harus waspada.

Dia berdiri lagi, memasang kuda-kuda lagi, lebih sigap, lebih waspada dan kaku. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Dia menunggu dengan penuh kemenangan. Dia pernah menembak beberapa kali, sekedar iseng-iseng latihan. Tapi kali ini dia pastikan tembakannya akan lebih istimewa. Dia berpikir tentang membantai seekor beruang kutub. Dia berpikir tentang kemenangan.

Wajahnya memucat. Bulu matanya menjadi putih. Angin dingin yang masuk melalui celah-celah jaket membuat tangannya gemetar. Beberapa kali dia harus mengusap wajahnya. Hidungnya mengeluarkan cairan yang langsung membeku di atas bibir. Tapi dia tetap harus dalam posisi ini bahkan sampai mati sekalipun.

Samar-samar dia melihat sesosok bayangan besar dari balik kabut yang tersingkap. Dia belum tahu pasti benda apa itu, tapi apa lagi sesuatu besar dan berbulu di tengah Arctic kalau bukan beruang kutub. Mungkin gerakan perlahannya menipunya. Bisa jadi makhluk itu menyerang dengan tiba-tiba dan sangat cepat.

Sesaat kemudian angin membuka tirai kabut dengan lembut, dan dia hanya menemukan tempat kosong.

Tapi kenyataan itu belum mengusir rasa khawatirnya. Dia masih merasakan makhluk besar itu berada di dekatnya. Entah di depan atau di belakangnya atau di samping kiri-kanannya. Dia mundur beberapa langkah sambil mengarahkan senapannya ke kanan dan ke kiri. Tiap suara atau bayangan, bahkan gerakan dalam pikirannya memberikan refleks yang cukup kuat. Dan seperti inilah yang terjadi ketika matanya menangkap sosok bayangan besar di sebelah kanannya.

Dia membidik ke arah kanannya.

Kosong.

Rasa khawatir itu terus menanjak, degup jantungnya seperti tidak tertahankan saat bayangan besar itu berada di sebelah kirinya.

Dia membidik ke sebelah kirinya.

Kosong.

Dia mencoba menenangkan tangannya yang gemetar, melirik ke sebelah kanan, lalu ke sebelah kiri. Tetapi dia merasakan beruang itu malah berada di hadapannya.

Dan sekali lagi ia hanya menemukan tempat kosong di hadapannya.

Panik? Tentu saja dia sangat panik. Beruang kutub merupakan salah satu hewan cerdas. Tapi dia mulai bisa membaca gerakannya. Kini, dia melihat monster itu di sebelah kanannya.

Dia melompat cepat ke samping kanannya.

Kosong.

Kemudian seluruh bagian dari pikiran dan jiwanya seperti terbelah, masing-masing berteriak melihat monster putih besar arctic. Dia membidik segala arah, tidak ingin kehilangan buruannya. Atau kau boleh katakan kalau dia yang tidak ingin menjadi yang diburu.

Beruang itu ada di belakang, siap menerkamnya …!

Tidak! Tapi di sebelah kiri!

Tidak!

Bukan!

Tapi di depan!

Ya! Di depan! Tepat di depan.

Tidak!

Sial! Apa-apaan ini!

“DOR!”

Burung-burung berterbangan, monyet-monyet melompat-lompat di pepohonan dan sembunyi, harimau menyembunyikan wajahnya dibalik tangannya, dan tepat di hadapannya, seekor beruang kutub jantan menggeliat kesakitan. Steve menembak jantungnya.

Oh Tuhan, aku terlalu waras berada di sini. Ini akibat psikologis yang menggelikan.

Steve mencoba menguasai situasi. Barangkali dia akan mati karena rasa takutnya sendiri. Bukan karena kedinginan, kelaparan atau beruang kutub. Dia masih memiliki tiga peluru dan sekaleng makanan, seandainya tidak bertemu lebih dari satu beruang kutub atau serigala mungkin dia dapat bertahan sepuluh jam. Dan jika ada keberuntungan lain maka dia dapat mencapai kapal dalam enam jam. Tidak .. mungkin delapan jam.

Terdengar suara geraman. Tapi Steve tidak ingin terkecoh lagi oleh pikirannya. Dia mengabaikan suara itu dan kembali memikirkan jalan pulang.

Tidak berapa lama suara geraman itu pun menghilang.

Suara itu hanya imajinasinya. Bukankah sebuah keadaan dapat menciptakan fantasi sendiri, disadari atau tidak disadari berasal dari dalam pikirannya yang paling jauh seperti yang dialaminya tadi?

Tapi Steve salah, suara geraman itu datang lagi. Kali ini suaranya terdengar konstan. Bukan dari pikirannya maupun halusinasinya. Suara itu keluar dari moncong seekor beruang putih jantan yang sedang berdiri di hadapannya. Sangat jelas dan sangat besar. Beruang kutub itu melangkah anggun dengan moncong terangkat, sesekali menunjukkan taringnya yang runcing. Kaki-kakinya besar dengan cakar tersembunyi dalam timbunan salju. Kibasan cakarnya dapat membuat hidupmu berakhir seketika.

Steve berdiri dengan hati-hati. Ini yang dia khawatirkan, ini yang dia takutkan. Ini nyata. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, atau mungkin tiga kali atau empat kali lebih cepat sampai-sampai memecahkan stetoskop. Dia mencoba tenang dan tidak panik. Dia pernah begitu dekat, sangat dekat dengan beruang kutub dan dia berharap beruang yang satu ini baru saja berpesta anjing laut. Dia mengangkat senapan dengan cepat, lalu membidik tepat ke kepala beruang kutub. Tangan, tubuh dan kakinya terpaku kecuali jari telunjuknya yang digerak-gerakkan sedikit supaya tidak kaku.

Beruang kutub berhenti kurang dari sepuluh meter di depannya. Matanya hitam kecilnya memelototi ujung senapan, moncongnya sedikit tertutup. Monster itu berdiri, lalu mengangkat dua tangan besarnya perlahan seperti seorang penjahat tertangkap basah oleh polisi.

Steve sedang melihat sebuah pemandangan yang indah, menakutkan dan aneh. Beruang kutub itu tidak dalam posisi menyerang, melainkan hanya diam, tenang dan kaku sambil mengawasinya dengan sesekali mengeluarkan suara geraman kecil. Tidak ada bunyi “bip” dan titik hijau.

Beruang ini bukan Bearie Polie, mungkin dari kelompok lain. Tapi, makhluk ini melakukan sesuatu yang tidak bisa dipercaya oleh siapapun. Dia … bicara.

“Kita sama-sama tahu keadaannya-kan?” kata beruang kutub. Suaranya tidak mirip manusia, tapi lebih mirip beruang: serak dan berat.

Steve berpikir ada empat kemungkinan apa yang sedang terjadi di hadapannya: pertama, dia sedang berhalusinasi. Kedua, seseorang memakai kostum beruang kutub dan sedang menakut-nakutinya. Ketiga, dia mengerti bahasa beruang kutub. Dan keempat, makhluk ini benar-benar bisa bicara.

Baiklah, kalau memang demikian, lantas apa yang harus kukatakan? Meong?

“Ehm, bisa kau turunkan senjatamu?” beruang kutub mencoba ramah dengan menggerakkan kepalanya ke samping kiri sambil menyipitkan dua matanya yang kecil.

Steve masih terpana pada keindahan yang mengerikan. Dia memastikan sedang melihat seekor beruang jantan dengan dua mata hitam kecil, dua telinga kecil, satu hidung, taring-taring yang tersembunyi, tangan dan kaki besarnya menyembunyikan cakar-cakar yang siap menghujam. Dia sekali lagi memastikan jika di hadapannya benar-benar berdiri seekor beruang kutub, … beruang kutub yang bisa bicara.

Tidak! Dia tidak akan menurunkan senjatanya. Beruang kutub itu … atau siapapun dibalik kostum itu tidak bisa menipunya. Ia menguatkan genggamannya, terus fokus membidik dan tidak akan lengah sedetik pun.

“Ayolah …,” beruang kutub mencoba membujuk dan menurunkan tangannya.

Steve memberi isyarat lewat senapan agar si beruang terus mengangkat kedua tangannya.

“OK .. OK ..,” beruang kutub mengangkat tangannya kembali dan tampaknya kecewa padanya. “Kau mungkin mengira aku akan menyerangmu. Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan?”

Steve menggeleng kepala, senjatanya terus diarahkan ke wajah beruang.

Mereka terdiam. Suasana hening dan mencekam, angin membawa butiran-butiran salju. Steve menatapnya tajam. Beruang kutub balas menatapnya; dari mata ke mata, pikiran ke pikiran, dan semakin lama keadaan tidak lebih menyenangkan, dan terus berlangsung hingga sepuluh menit … lima belas menit .. tujuh belas menit. Antara Steve dan beruang kutub seperti sedang adu daya tahan siapa yang lebih lama mengangkat tangan. Tapi sialnya Steve merasakan gatal di kepalanya … dan semakin gatal, dan sepertinya beruang kutub tidak akan menurunkan tangannya karena tahu Steve bersungguh-sungguh akan menembaknya.

“Okay katakan,” kata Steve, tapi ini bukan berarti dia akan menyerah.

“Bolehkan tanganku turun?”

Steve mengangguk sedikit, namun masih membidik. “Mundur tujuh langkah,” katanya.

“Sepertinya aku memecahkan rekor beruang kutub terlama yang mengangkat tangan,” kata beruang kutub, menurunkan tangannya, lalu mundur perlahan. Bulu-bulunya terbawa angin bergerak lembut ke kanan dan ke kiri. Pandangannya terus mengawasi pergerakan senapan seolah pernah merasakan dirinya tertembak.

“Duduk!” Steve melakukan ini agar beruang kutub tidak menyerangnya tiba-tiba.

Beruang kutub duduk dengan tenang.

“Sekarang katakan kesepakatannya.”

“Tidak ada kesepakatan,” beruang kutub berkata dengan santai dan tanpa rasa bersalah.

Terdengar bunyi ‘klik’ pada senapan.

“Aku bercanda … aku bercanda kok.”

“Brengsek. Sebenarnya siapa sih kau ini?”

“A-ku .. hanya .. seekor beruang kutub yang tersesat.”

“Tersesat? Di daerahmu sendiri? Bohong!” Steve menggertak lebih untuk menghilangkan dingin dan rasa takutnya.

“Okay .. okay, aku akan katakan yang sebenarnya,” matanya yang kecil membesar menunjukkan kalau dia terpengaruh dengan gertakannya. Steve bersumpah jika monster berbulu putih itu berbohong lagi maka dia sungguh-sungguh akan meledakkan kepalanya.

“Lihatlah aku. Seekor beruang kutub yang bicara. Tuhan mengutusku untuk menyelamatkanmu. Namaku Donnie … D-O-N-N-I-E,” dia berkata dengan cepat.

Steve sedang melihat seekor beruang kutub yang sedang ketakutan dibawah bidikannya dan itu membuatnya lebih tenang.

“Ok. Donnie, lanjutkan.”

“Aku akan menyelamatkanmu dari beruang kutub lain. Aku akan membawamu ke kapal, dan kau akan bertemu tim-mu, dan kau bisa menikmati coklat panasmu.”

Steve mengarahkan senapan ke sebelah kaki kiri beruang kutub, dan … DOR!

“Sialan kau! Aku sungguh-sungguh,” kata beruang kutub, ketakutan.

Masih ada dua peluru lagi dan Steve merasa sedang berada di atas angin.

“Beruang kutub bisa membunuhmu. Maksudku selain aku. Jika kau tidak percaya, baiklah. Aku akan pergi meninggalkanmu. Kautahu, pelurumu tidak cukup untuk membunuh selusin beruang kutub.”

Steve berpikir jika memang makhluk ini utusan Tuhan (walaupun kelihatannya konyol), tapi siapa peduli? Mungkin beruang kutub bodoh ini harapan satu-satunya. Lagi pula toh dia yang berkuasa sekarang.

“Lalu apa yang akan kita lakukan?”

“Kita berjalan ke utara. Kira-kira lima belas kilometer”

“Ok. Lalu?”

“Kau akan temukan kapalmu di sana. Hanya itu.”

“Hanya itu?”

“Ya. Hanya itu.”

Mungkin tidak ada salahnya percaya pada makhluk yang ‘orang lain tidak akan percayai’ dan dia tidak perlu menghabiskan waktu berdebat dengannya.

“Kita bergerak. Kaujalan duluan.”

Monster itu bangkit lalu berjalan memutar, matanya mengawasi senapan yang mengikuti gerakannya. Setelah merasa berada di jarak aman, Steve berjalan di belakangnya.

“Kau membuatku takut,” kata Donnie, “aku hanya ingin menolongmu,”

O ya? Apakah kau akan menolongku jika aku tidak menodongkan senjata padamu?

Mereka berjalan seperti seorang polisi dan seorang tahanan. Donnie memiliki bulu putih indah melambai-lambai tertiup angin, berjalan dengan bokong besar yang melenggak-lenggok seakan sedang meledek Steve. Sesekali Donnie berhenti sebentar untuk menoleh kebelakang, melihat posisi Steve dan setelah berjalan kembali.

“Seseorang pernah memberiku rokok. Namanya Max. Max Black dari WWF.”

Donnie kenal dengannya: tua dan pensiun. Orang-orang memanggilnya Si Gila Max, seperti filmnya Mel Gibson. Tapi dia memilih diam. Beruang ini terlalu cerewet.

“Kautahu, tidak ada beruang yang merokok. Tapi aku pernah coba satu. Aku masih ingat …  Marlboro. Keren.”

Tapi tidak ada suara dari Steve. Donnie menoleh ke belakang sebentar dan dapat melihatnya masih menodongkan senjata padanya. “Kamu nggak banyak ngomong ya?”

Salju semakin tebal, Steve kesulitan melangkah.

“Eh … kau dimana belajar bicara?” tanya Steve “Siapa yang mengajarimu?”

“Entahlah. Bisa begitu aja. Hanya aku yang bisa bicara. Tapi Max pernah cerita padaku ada seekor beruang yang bisa bicara. Sejenis beruang coklat, gizzy, grizzy … grizly … entahlah. Jelmaan manusia … seorang Indian dan menyukai madu.”

Steve harus mengangkat kakinya tinggi-tinggi untuk melangkah sambil mengawasi Donnie dengan satu tangan memegang senapan.

“Hei kautahu madu? Enak-kah? Enakkah? Enakkah?”

Steve tertinggal beberapa meter cukup jauh dari Donnie, kakinya hampir terjebak salju tebal.

“Donnie! Hei brengsek, berhenti!” teriaknya.

Donnie melangkah. “Jadi kau tidak mendengarku?”

“Jalan!” perintahnya. Donni mulai melangkah lagi “Kaubicara apa tadi?”

“Madu. Kautahu madu? Apakah enak?”

Steve tidak menjawab. Dia teringat terakhir kali berada di helikopter beberapa saat sebelum terjatuh. Helikopter bergetar hebat, pilot berkata soal badai dan bahan bakar yang membeku. Dia berpegangan pada tali. Dr. Hughman mengingatkan seekor beruang kutub yang terlewat dan mengatakan akan kembali besok. Steve masih mendengar suaranya namun tidak terlalu jelas, tapi dia keburu terdorong keluar dan terlempar jatuh.

Kabut turun lagi disertai angin yang membawa salju-salju, suaranya seperti siulan. Steve memeriksa PBIS dan memastikan mereka berjalan ke arah yang tepat.

“Hei Don- …,” tapi dia tidak melihat Donnie, atau mungkin dia sudah tidak bisa membedakan warna antara Donnie, kabut dan salju. “Hei Donnie!” teriaknya.

Tidak ada jawaban. Tidak ada tanda-tanda dari Donnie.

“Sial!” dia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi di sini. Dia melempar PBIS, mengawasi keadaan di depannya lalu di belakangnya. Dia memutar tubuhnya sambil membidik ke segala arah.

Donnie menipunya. Ditipu beruang kutub benar-benar menyakitkan. Dia ingat bahwa bulan ini adalah awal musim semi, saat es mencair dan anjing-anjing laut berenang ke utara. Beruang kutub ikut pindah bersama-sama bongkahan es memburu anjing laut. Dia mundur beberapa langkah dan berhenti, membidikkan senapannya ke segala arah. Tidak berapa lama dia mendengar bunyi yang akan dia ingat selamanya.

“WUFF!”

Awalnya dia tidak merasakan sakit, namun detik berikutnya dia merasakan perih yang mendalam di punggungnya. Dia melihat langit, matahari dan seluruh bumi berputar. Dia melihat Donnie berdiri tidak jauh darinya dengan moncong terangkat, melolong dan siap mengakhiri hidupnya. Dia terjatuh, tapi dia tidak akan menyia-nyiakan hidupnya tanpa perlawanan. Dia berusaha merangkak untuk meraih senapannya.

Usahanya hampir sia-sia ketika tiba-tiba seekor beruang kutub lain muncul tidak jauh darinya dan mengeluarkan suara yang mengerikan, lebih buas dari auman Donnie. Dia adalah Bearie Polie. Steve bisa mengetahuinya dari bunyi PBIS yang semakin nyaring. Bearie Polie, satu-satunya beruang kutub yang tertinggal dari kelompoknya.

Donnie dan Bearie Polie saling menatap seperti sedang memperebutkan Steve. Dua monster itu berjalan berputar sambil mengeluarkan bahasa mengerikan yang hanya dimengerti mereka. Donnie bergerak menjauhinya, tapi Bearie Polie terus memburunya dan siap menerkam. Donnie mundur beberapa langkah seperti sedang memperkirakan jangkauan tangan lawannya. Sementara itu ia semakin jauh dari mereka. Bearie Polie mengangkat dua tangannya dan melompat cepat ke arah Donnie. Donnie bersiap menghadapi serangan lainnya. Cakar mereka saling berbenturan, kemudian mereka bergumul dengan suara-suara yang mengerikan, menyatu bersama salju-salju yang berhamburan.

Steve mencoba bangkit. Dia membidik ke arah dua beruang kutub secara bergantian. Tapi kemudian dia mengarahkan senapan ke atas dan … “DOR!”

Bunyinya mengejutkan kedua monster itu dan seketika mereka berhenti bertarung. Bearie Polie melangkah mundur. Donnie terpaku, melangkah menjauh dari Bearie Polie. Steve membidik ke arah Donnie. Donnie mengangkat tangannya. Mata Steve sesekali mengawasi gerakan Bearie Polie dan membidik ke arahnya. Dia membidik dua beruang itu bergantian. Dia harus memutuskan beruang mana yang harus mati dengan satu peluru. Dia pernah bersama keduanya. Meski beruang kutub adalah hewan pemalas, Bearie Polie adalah yang paling malas. Dan Donnie? Makhluk aneh ini sudah menipunya.

Steve melepaskan satu tembakan ke jantung Bearie Polie. Bearie Polie masih sempat berjalan sebelum ambruk, darahnya mengalir perlahan mewarnai salju. Monster itu masih terlihat bernafas dengan terputus-putus dan akhirnya mati.

Steve menjatuhkan diri di atas lututnya, tubuhnya tertahan senapan dan kemudian jatuh terlentang. Dia memandang langit, mencari tahu apakah dirinya akan hidup satu jam lagi.

Bayangan Donnie menutupi wajahnya saat sadar, memandangnya dengan senyum yang menampilkan gigi-gigi mengerikan. “Kamu baik-baik saja-kan?” tanya Donnie.

Steve mencoba tersenyum, tapi dia tidak langsung menjawab karena masih menahan sakit.

“Bagaimana kautahu bukan aku yang melakukannya?”

Sebenarnya bukan sebuah pilihan sulit, dia melihat robekan jaketnya di cakar Bearie Polie.

“Kau benar-benar lucu saat aku menggertakmu,” Steve berkata disusul batu-batuk kecil.

“Kaupikir lucu ya?”

“Kau ketakutan .. dan kelihatan lebih jujur.”

Mereka tertawa, tapi cara tertawa Donnie bisa menakutkan anak kecil.

“Kau nggak apa-apa?” tanya Donnie memastikan.

“Ya, aku nggak apa-apa … terima kasih,” kata Steve, sesaat kemudian pandangannya gelap.

Bearie Polie mati, bangkainya akan dimakan kawanan srigala. Donnie membawa dan menaruh Steve ke atas punggungnya. Steve memeluk lehernya, merasakan kehangatan bulu beruang itu persis seperti yang dia inginkan saat kecil. Donnie benar, mereka memang seharusnya menuju utara. Rekan-rekannya jatuh lima kilometer dari tempatnya jatuh dan ditemukan sehari setelah dia tiba di kapal. Tidak ada yang selamat. Dia memang sungguh beruntung.

“Aku mendengar pengakuanmu,” kata Donnie. “Selingkuh?”

“Tapi aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya,” Steve membisikkan di telinga kanannya.

“Kau bohong. Namanya Pam. Pamela bukan?”

“Kau mau coklat panas nanti?”

“Ah tidak usah-lah. Tempat tinggalku di sini, tugasku hanya mengantarmu.”

* * *

Steik Tuna Mr. Obama

“Kami makan di restauran,” Keith berkata. “Aku, Mr. & Mrs. Obama, dan Dr. Lee.”

Keith adalah pasien baruku sehingga aku harus benar-benar mempelajari catatan medisnya. Ia mengalami gangguan nafas akut, demam di malam hari dan sering mengeluh masalah ginjalnya. Terapi yang diberikan Dr. Lee hanya pengobatan jangka pendek dan ini sangat menggangguku. Tapi aku dokter yang berpengalaman. Aku tahu lebih dari dua ribu komposisi obat berserta nama patennya meski hanya sembilan puluh persen yang aku hapal harganya. Aku selalu meminta Bob untuk membelikanku buku daftar obat terbaru sebagai upayaku mengikuti perkembangan obat.

“Baiklah Keith, buka kancing bajumu.”

Ketih agak lama merespon permintaanku sehingga aku harus mengulang sekali lagi dengan suara lebih keras.

“Maafkan aku, Dok. Aku masih teringat Mr. Obama.”

“Kau selalu mengingatnya. Kau selalu ingin menceritakannya.”

Keith membuka kancing bajunya, tapi ia membuka semuanya.

“Keith, kau tidak perlu membuka semuanya. Dua kancing saja.”

“Oh, eh. Maaf, Dok.”

Keith selalu minta maaf. Maaf untuk ini, maaf untuk itu. Aku tidak mengerti apa kesalahannya kepada orang lain. Tapi aku profesional. Sering kali hanya dengan mendengar keluhan, aku bisa membantu penyembuhan pasien lebih cepat meskipun itu terasa menggelikan dan aneh.

“Jadi, kau makan malam apa dengan … Presiden kita?” aku berkata sambil menahan tawa geliku ketika menyebut ‘Presiden kita’.

“Kau tertawa, Dok.”

“Tidak. Aku tidak tertawa.”

“Ya, kau tertawa.”

“Ok, Keith. Aku tertawa. Maafkan aku.”

“Kau selalu minta maaf, Dok.”

Aku selesai memeriksa detak jatungnya. Tidak ada masalah dengan jantungnya, iramanya stabil dan terdengar kecang di telingaku. Hanya saja stetoskop membuat kedua telingaku sakit.

“Sekarang buka mulutmu lebar-lebar.”

Keith membuka mulutnya sangat lebar, bau tidak sedap keluar dari dalamnya.

“Keluarkan lidahmu dan katakan: AAA.”

Keith menuruti perintahku. Aku mulai mengarahkan senter kecilku sambil menahan bau mulutnya. Gigi atas dan bawahnya bolong, lidahnya pucat dan itu berarti menandakan sesuatu. Aku berpikir sebentar. Ada indikasi-indikasi peradangan, dan analisaku mengarah pada penyakit aneh yang terjadi belakangan ini seperti flu babi, flu burung, sapi gila atau mungkin hanya asma.

Keith mengatakan sesuatu yang tidak jelas sambil menunjuk-nunjuk ke arah mulutnya.

“Sebentar, Keith. Aku sedang berpikir.”

Keith mengangguk. Seharusnya ia mengerti tugas seorang dokter. Menentukan penyakit dan obat-obatan yang akan diberikan pada pasien merupakan sesuatu yang penting.

“Kau boleh menutup mulutmu, Keith.”

Keith menutup mulutnya, ia berkata, “Aku sakit apa, Dok?”

“Entahlah. Sekarang berbaringlah.”

Aku menekan bagian kiri perutnya dan menanyakan apakah terasa sakit di bagian itu.

“Tidak, Dok. Bagian itu baik-baik saja.”

Aku memindahkan tanganku ke bagian tengah perutnya, lalu naik sedikit, dan menekannya lebih keras hingga aku melihat Keith merasa seperti kehabisan nafas.

“Hu-uh itu sakit sekali, Dok.”

Aku kembali ke mejaku setelah mendapat kesimpulan, dan setelah itu memanggil Ketih dan menyuruhnya duduk di hadapanku.

Keith melompat dari ranjang dan duduk menunggu di hadapanku sementara aku menulis resep obat untuknya.

Aku seorang dokter spesialis jantung lulusan Harvard yang bertugas mulifungsi sejak menginjakkan kaki di rumah sakit ini. Rumah sakit yang kumaksud adalah rumah sakit kelas satu di Chicago dengan fasilitas payah. Ini malam natal, hampir semua dokter pergi bertemu keluarga mereka, kecuali aku yang memang memiliki hati tulus mendampingi pasien. Satu jam lagi aku akan melakukan operasi usus buntu, setelah itu kunjungan ke bangsal TBC untuk memantau keadaan pasien-pasienku. Dan dalam semua kasus, aku terpaksa menjadi psikiater.

“Keith, kau belum menceritakanku tentang makan malammu.”

Well, Dok. Mr. Obama memesan makanan untukku. Beliau tanya, apakah aku suka steik? Aku jawab aku sangat suka steik. Kautau dok, aku suka semua makanan,” Keith tersenyum.

“Jadi, apa yang kaumakan?”

“Steik tuna.”

“Kaumakan steik tuna?”

“Mr. Obama juga makan steik tuna. Sangat lezat, Dok.”

“Obama tidak makan Steik. Ia seorang vegetarian sama seperti aku.”

“Tidak, dok. Mr. Obama makan steik tuna, dan beliau bilang ini steik terlezat di Chicago.”

“Kau salah, Keith. Obama tidak makan daging. Begitu juga istri dan kedua anaknya. Ia mendidik keluarganya dengan baik untuk hidup sehat. Kautahu, daging itu penuh dengan parasit. Parasit itu sumber penyakit. Aku mempelajarinya di Harvard.”

“Tapi ikan bukan daging, Dok. Mr Obama makan Steik tuna. Beliau menghabiskannya dan hampir-hampir nambah jika tidak menyadari dirinya sedang berada di hadapan wartawan.”

“Aha! Kau pintar, Keith. Tapi kau tidak cukup cerdas. Apakah kau cukup punya bukti bahwa Obama makan steik? Kaubilang ada wartawan. Kau bisa menunjukkan beritanya padaku?”

“Tidak, Dok. Aku tidak punya korannya.”

“Jadi kau mengakui aku yang benar dan kau yang salah.”

“Kau benar, Dok. Aku yang salah. Maafkan aku.”

“Kau selalu minta maaf, Keith.”

Aku merobek lembaran kopi resep dan memberikannya pada Keith. Ia membaca resep yang kutulis. Lama sekali ia membacanya.

“Kau tidak perlu menatapnya. Berikan saja pada orang di apotik dan ambil obatnya.”

“Baik, Dok.”

Keith berjalan ke luar ruangan, tapi ia berhenti di tepi pintu lalu mengucapkan sesuatu yang tidak perlu padaku: “Terima kasih, Dok.”

Keith pasien terakhirku dan kurasa aku bisa istirahat lebih awal malam ini. Ia pasien spesial meski ia kerap terobsesi bertemu Obama. Untuk pasien spesial terkadang aku harus mengikuti permainannya. Tapi menyetujui Obama makan steik adalah tidak mungkin karena aku tahu betul kawan masa kecilku itu. Aku bangkit dan berdiri di hadapan cermin ajaib, memandang diriku dalam jas putih baru yang terlalu sempit dan membuat perih di bagian ketiak. Mungkin lain kali aku akan meminjam jas Dr. Allan. Ukuran tubuhnya sama denganku.

Sebentar kemudian Dr. Lee datang bersama Bob. Aku menyukai Dr. Lee karena ia seorang wanita cerdas meskipun harus kuakui ia tidak lebih cerdas dariku dalam menganalisa penyakit dan memberikan terapi untuk para pasien.

“Jadi, Keith pasien terakhirmu, Joe?”

“Ya, dan aku memberikan pengobatan yang terbaik untuknya. Ia akan sembuh dalam beberapa hari.”

“Kau memang hebat Joe. Jadi, boleh kuminta jasku kembali.”

“Silahkan, Dok.”

Aku melepas jasnya dengan susah payah dan memberikan padanya.

“Dok, boleh aku bertanya padamu?”

“Tentu.”

“Apa betul Obama menyukai steik tuna?”

“Presiden sangat menyukai steik tuna, Joe. Darimana kautahu? Ah, Keith pasti memberitahumu.”

Aku melihat Bob memberikan koran pada Dr. Lee, lalu Dr. Lee menunjukkan padaku halaman depannya. Di situ ada foto Dr Lee, Keith, Obama dan Michelle, dan Bob berdiri di samping mereka. Aku meminta koran itu untuk kubaca. Bob memberikannya padaku. Tapi aku tidak membaca apapun. Tapi jika kau bisa membaca, seperti inilah tulisan tersebut di koran:

PRESIDEN MENYUMBANG US$ 200.000 UNTUK RSJ CHICAGO

“Seharusnya kau yang makan malam dengan Presiden, Joe. Tapi malam itu kau terus menendang-nendang ranjang dan menyakiti dirimu sendiri sehingga Bob terpaksa harus mengikatmu. Kamu ingat-kan?”

“Aku ingat, Dok. Ma’afkan aku.”

“Sekarang kau kembali ke kamarmu. Bob akan mengantarmu.”

“Okay, Dok.”

Bob memegang tanganku tanpa menariknya seperti yang biasa ia lakukan jika aku bersikeras tidak mau kembali ke kamar karena iblis-iblis bersayap masih berterbangan di kamarku.

“Dr Lee?” aku memanggilnya.

“Ya, Joe,” jawabnya, tersenyum padaku. Senyumnya seperti malaikat.

“Terima kasih telah mengusir iblis-iblis itu dari kamarku.”

“Sama-sama, Joe.”

Aku memandang Dr. Lee untuk terakhir kalinya malam itu. Aku menyukai 89 di bajuku. Dr. Lee bilang iblis-iblis tidak akan datang kembali selama 89 itu masih menempel di bajuku.

***

Ayah dan Aku

Aku menulis ini untuk anakku yang belum lahir, untuk istri yang belum kunikahi, untuk mobil yang belum kumiliki, untuk rumah yang belum kutempati. Anakku akan menjadi dokter, itulah impianku.

Aku kenal betul Kakekku. Tiga kali dalam setahun aku mengunjunginya, dan tiap kali aku ke sana, Kakek selalu cerita tentang Ayah dan saudara-saudara Ayah. Ayah bangga pada Kakek. Ayah bilang Kakek adalah seorang pejuang, dan tiap kali Ayah menceritakannya, Ayah selalu mengatakan betapa keras Kakek mengajar Ayah waktu kecil dulu.

Kakek tinggal di rumah yang kecil walau tidak bisa dibilang sederhana. Tidak ada TV, tidak ada radio, tidak ada lemari es karena memang tidak ada listrik. Untuk mengambil air pun, kami harus menimba dari sumur. Jika malam datang kami harus berhati-hati mengambil air, jika tidak, bisa-bisa terpeleset dan jatuh ke dalam sumur. Kakek bercerita saat usia dua belas tahun Kakek kerja di pelabuhan dan berhenti kerja di usia empat puluh enam. Di sisa umurnya Kakek berjualan ikan bersama nenek. Kakek meninggal dua bulan lalu atau lebih kurang dua tahun setelah nenek meninggal. Tidak banyak yang diwariskan Kakek bahkan rumahnya, karena rumahnya adalah milik pak Samin. Kakek menyewa sepanjang hidupnya. Kakek hanya mewariskan semangat kerja keras pada Ayah.

Ayah seorang buruh pabrik. Meski demikian Ayah sangat menghargai pekerjaannya hingga dua puluh enam tahun bekerja di sana seperti tak terasa. Ayah rela berdesak-desakkan di bis saat berangkat dan pulang kerja. Ayah bilang, “Kerja itu berjuang, dan untuk berjuang kamu harus menikmatinya.” Tidak jarang Ayah pulang malam atau masuk kerja di hari Ahad karena lembur. Ayah harus menafkahi istri dan empat anaknya. Aku adalah anak pertamanya.

Aku mewarisi wajah Ayah namun hidungku lebih cenderung ke Ibu sedangkan karakterku menurun dari keduanya. Aku kerja seperti Ayah, berangkat pagi dan pulang malam. Kupikir mungkin inilah risiko menjadi anak pertama dan segalanya mengalir seperti sungai: Ayah dan aku kerja, Ibu mengurus rumah tangga dan ketiga adikku pergi sekolah.

Kami tidaklah miskin, setidaknya untuk ukuran enam orang dalam rumah tipe 21. Jika aku terus mengikuti pola hidupku maka akan berjalan seperti adanya; aku kerja, aku menerima gaji, lalu empat atau lima tahun lagi, aku akan menikah, menimang bayiku, melihat anakku menjadi remaja dan anakku menceritakan kejadian yang sama seperti yang aku lakukan sekarang. Namun bila dibandingkan dengan Ayah, aku rasa, aku lebih beruntung darinya, setidaknya pakaianku tidak kotor saat bekerja atau berpanas-panasan dengan mesin. Tugasku mengatur dan menyusun file dan mencari file jika staf lain memerlukan.

Ibu menyiapkan sarapan jam lima. Aku dan Ayah menjadi prioritas karena kami harus berangkat jam lima tiga puluh, setelah itu adik-adikku menyusul. Rumahku berjarak tiga kilometer dari stasiun, itu artinya berjarak lima menit jika naik angkot atau lima belas menit jika berjalan cepat. Dan aku lebih memilih jalan kaki.

* *

Orang-orang yang ingin naik kereta berjejer di peron, menunggu kereta masuk, yang di barisan depan berpeluang besar dapat tempat duduk. Mereka yang tidak dapat tempat duduk akan berdiri berdesak-desakkan, dan tiap kali kereta berhenti di stasiun, orang-orang akan terus bertambah hingga merasakan dorongan dari empat sisi. Sebenarnya aku bisa berada di barisan depan saat menunggu kereta masuk, lalu melompat lebih dulu dari yang lain sehingga dengan cepat memilih tempat duduk, namun aku enggan melakukannya karena tidak ingin celaka, setidaknya sebelum aku mengenal Erlin.

Erlin adalah wajah baru di stasiun ini karena aku hapal orang-orang yang biasa naik kereta. Orang baru biasanya menanyakan di stasiun mana dia harus turun dan aku senang Erlin bertanya padaku. Setelah beberapa hari mengenalnya, aku harus berdiri di barisan depan dan kemudian memberikan tempat duduk buat Erlin. Kasihan sekali jika Erlin harus terpaksa berdiri, bisa-bisa dandanannya rusak karena keringat dan bajunya kusut karena berdesakkan.

Ayah selalu tiba di rumah lebih dulu dari aku. Aku biasa menemukannya saat Ayah sedang makan malam atau baca koran. Saat aku melihat Ayah, aku melihat putih rambutnya, keriputnya yang tebal dan urat-urat tangannya yang menonjol. Aku berkata pada diriku, apakah aku akan menjadi seperti Ayah? Lalu aku melihat Ibu yang tak beda jauh dari Ayah dan berkata pada diriku lagi, apa yang membuat Ibu menikahi Ayah? Lalu aku membayangkan wajah Erlin dan berkata pada diriku, apa yang membuat Erlin akan menikahiku? Dan Sabtu besok Erlin mengundangku ke rumahnya, ke pesta ulang tahunnya. Sebuah undangan yang tidak bisa kutolak.

Di suatu malam Ayah memanggilku.

Aku masih ingat harinya; hari senin, empat hari setelah ulang tahunku yang ke dua puluh tiga. Ibu duduk di samping Ayah, membaca majalah dua bulan lalu. Aku duduk di hadapan Ayah, membaca judul berita koran yang Ayah letakkan di atas meja. Beberapa saat kemudian Ayah memulai pembicaraan. Aku tidak ingat apa yang Ayah ucapkan pertama kali karena aku terlanjur asik membaca judul-judul berita lainnya. Ibu masih membaca majalah dan kurasa Ibu juga tidak memerhatikannya.

Ayah mengambil koran yang sedang kubaca, melipatnya dan meletakkan di bawah meja. Itu tandanya pembicaraan mulai serius. Ibu bangkit berdiri, meletakkan majalah di atas meja dan meninggalkan kami tanpa sepatah kata. Sepertinya Ibu tidak ingin mencampuri urusan laki-laki. Aku melihat sekilas iklan komputer di majalah. Aku membayangkan sedang mengetik di komputer sendiri.

Ayah tidak pernah memulai dengan pembicaraan ringan. Ayah mengatakan apa yang perlu Ayah sampaikan dan setelah itu Ayah membiarkanku berfikir. Kata “Dengar Ayah ..” adalah kata yang sering diucapkan agar aku mengerti. Aku paham maksud Ayah malam itu, aku mengerti sampai ke detailnya, sebuah pembicaraan dari laki-laki ke laki-laki, dari Ayah ke anak pertamanya. Aku paham keadaan Ayah dan aku tahu posisiku. Ayah tidak kerja lagi, Ayah bilang karena restrukturisasi perusahaan (aku ragu, aku dan Ayah paham kata itu). Aku hanya mengambil kesimpulan bahwa rumah ini, Ibu, ketiga adikku bahkan Ayah berada di pundakku. Ayah memberi kepercayaan padaku sebagaimana Ayah percaya pada diri Ayah. Bagi Ayah, aku adalah cermin dirinya. Bagiku, aku adalah aku. Ya, aku adalah aku. Aku bergaul dengan orang yang aku ingini, membeli barang yang aku mau atau pergi ke mana saja, ke tempat yang aku suka. Dan aku akan pergi ke rumah Erlin besok.

Erlin memiliki keluarga yang bahagia dengan rumah dan mobil yang bagus, entah bagaimana aku menempatkan diriku di rumahnya.

Semua orang yang hadir bernyanyi “Happy birthday to you.” Seorang laki-laki mencium kening Erlin dan sebuah kado besar diberikannya. Aku tahu laki-laki itu, laki-laki yang membuatku cemburu, sedangkan aku hanya duduk sendiri di pojok ruangan.

Aku menyimpan kado untuknya di tasku, sebuah buku dengan selembar puisi yang kubuat sendiri disisipkan di tengah buku. Kado itu akan berada diantara tumpukan kado-kado bagus, diantara HP, jam tangan mahal, perhiasan-perhiasan indah dIbungkus dengan cantik. Dan aku memutuskan tidak memberinya kado. Aku tetap menyimpannya, barangkali aku akan memberikannya lain waktu.

Sejak Ayah tidak kerja aku selalu menemukannya sedang menonton TV, baik saat aku berangkat kerja maupun pulang kerja. Tidak jarang aku menemukan Ayah sedang melamun, entah Ayah sedang merindukan pekerjaannya atau memikirkan keluarga. Yang kulakukan hanya berusaha menjadi anak baik dan karena itulah hampir seluruh gajiku untuk keperluan keluarga. Di tahun-tahun ke depan aku tetap akan menjadi tulang punggung keluarga, setidaknya sebelum aku menikah atau sambil menunggu adik-adikku lulus dan mendapatkan pekerjaan. Ibu pasti bangga padaku karenanya.

Selanjutnya aku akan menceritakan tentang Ayahku yang seharusnya tidak kuceritakan.

Sebelumnya, menonton TV bukanlah kebiasaan Ayah. Ayah biasa memegang kunci inggris atau menjalankan mesin di setengah hidupnya. Ayah seperti sedang kehilangan semangat dan pegangan, tidak banyak dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku kecewa melihatnya. Aku tunjukkan sikapku dengan tidak banyak bicara. Aku berharap semoga Ayah mengerti maksudku. Dan Erlin? Erlin masih seorang perempuan yang ingin kunikahi. Erlin memiliki apa yang kuanggap menyenangkan dan tentu saja tiap laki-laki punya jalan untuk membahagiakan perempuan. Aku punya tekad untuk membuatnya bahagia. Mungkin ini seperti sebuah mimpi, mungkin Ayah punya jalan sendiri saat mengenal Ibu, tapi aku akan melakukannya yang terbaik buat Erlin. Di jalan itu, aku akan menjadi penulis. Aku akan menjadi penulis besar, lebih besar dari penulis abad ini dan mendapatkan uang banyak, lalu aku akan menikah dengan Erlin dan kami akan bahagia. Aku punya bakat dan ide-ide besar untuk tulisanku. Tapi aku tidak punya komputer, padahal penulis jaman sekarang harus pakai komputer. Aku harus memilikinya.

Lagi-lagi Ayah membuatku kesal. Kenapa Ayah harus berhenti kerja di saat yang tidak tepat? Bagaimana aku dapat beli komputer jika masih harus mengeluarkan uang untuk keluarga? Ayah seharusnya mengerti aku. Tidakkah di usianya Ayah masih bisa mencari pekerjaan lain atau memulai usaha sendiri? Haruskah aku melihatnya setiap hari sedang menonton TV? Apakah setiap anak harus melalui sirkulasi seperti ini; Ibu melahirkan aku, Ayah mencari nafkah, Ayah membiayai sekolah dan untuk membalas jasa mereka maka aku harus menafkahi mereka kemudian? Mungkin aku bukan anak baik, namun aku punya alasan mematikan TV tiba-tiba saat Ayah sedang menontonnya. Kejadiannya begitu cepat, dan itu lebih baik dibandingkan dengan memecahkan layar TV atau membantingnya.

Ayah sadar apa yang terjadi. Ayah tahu maksud sikapku ini dan Ayah ingin memperbaikinya. Ayah menghampiriku yang sedang baca koran (sebenarnya hanya pura-pura baca) dan memintaku untuk mendengarnya. Kali ini aku tidak mendengar kata “Dengar Ayah!” dan sebagai penggantinya Ayah lebih sering minta ma’af hingga terkesan sedang menyalahkan dirinya. Ya, aku pikir memang seharusnya demikian. Ayah berjanji akan mencari pekerjaan baru sepanjang Ayah mampu. Dan sekali lagi Ayah minta ma’af telah mengorbankan keinginanku. Sebenarnya hal itu membuatku merasa bersalah.

Hari berikutnya aku tidak pernah melihat Ayah di depan TV. Aku lebih sering melihatnya mengerjakan sesuatu seperti membuat kursi, membuat gantungan baju, menyetrika, membaca atau apa pun itu asal bukan menonton TV. Dan hari-hari berikutnya aku jarang menemukan Ayah di rumah. Ibu bilang Ayah sudah kerja lagi, namun Ibu belum tahu di mana Ayah kerja.

Satu malam, menjelang tidur, aku memasang telinga untuk mengetahui jam berapa Ayah pulang. Aku mendengar seseorang membuka pintu pagar dan orang yang kami cintai itu pulang disambut Ibu. Aku melihat dari celah kunci pintu. Aku melihat Ibu sedang memijat Ayah.

Dan sekali lagi itu membuatku merasa bersalah.

Satu bulan berlalu sejak kudengar Ayah dapat pekerjaan baru. Saat itu bulan Juni di musim panas. Aku dipromosikan dengan kenaikan dua kali gaji sebelumnya, memiliki meja yang luas tepat di bawah AC, dan aku menggunakan komputer. Tugasku membuat penawaran, artinya aku hanya duduk dan mengetik kemudian mengirimkan penawaran ke calon klien.

Di suatu siang setelah jam istirahat aku melihat Ayah di kantorku berdiri di depan pintu masuk ruanganku. Aku tidak tahu sudah berapa lama Ayah memerhatikanku, tapi kurasa Ayah datang bukan untuk melihatku. Namun apakah arti tatapannya?

Ayah melambaikan tangannya padaku dan aku pun menangkap isyaratnya, seperti sedang mengatakan: Ayah bangga anaknya kerja di ruangan yang nyaman.

Ayah kerja untuk perusahaan air minum dan Ayah datang mengantarkan air ke kantorku. Ayah memegang empat galon air kosong. Tak lama kemudian Ayah pun berlalu. Kutinggalkan meja dan berlari menyusul Ayah. Aku memanggilnya dan melabrak tubuhnya yang berkeringat dan memeluknya erat.

Ayah berkata, “Hei, anak laki-laki nggak boleh cengeng.”

Dan aku pun tersenyum padanya.

Ijinkan aku menyampaikan pesan kepada diriku yang masih memimpikan istri cantik, rumah indah dan mobil bagus. Aku menulis ini di komputer baruku, di samping Ayah yang sedang nonton TV. Dan aku berkata pada diriku, “Anakku akan menjadi dokter, dan aku harus lebih baik dari anakku.”

* * *