Apakah Joey Benar-Benar Aneh?

Joey enggan menyentuh makanannya. Ia hanya memainkan garpu dan pisau, memandangnya tanpa keinginan menghabiskan. Dua puluh menit lagi bis sekolahnya akan datang, teman-temannya akan kembali membuat lelucon dan ejekan tentang dirinya sementara ia hanya menunduk pura-pura tidak tahu. Ia bahkan masih hapal ejekan-ejekan kemarin dan ejekan-ejekan kemarin lusa dan ejekan-ejekan mereka minggu lalu di sekolah, membuatnya ingin menghajar mereka satu per satu hingga mereka tidak punya mulut untuk bicara.

“Dengar Joey,” ibunya berkata, memandang Joey sungguh-sungguh. “Kau tidak aneh dan tidak ada yang aneh dalam keluarga kita. Tidak juga ayahmu atau kakekmu.”

Joey tidak memerhatikannya. Tangan kirinya menopang dagu, tangan yang lain menusuk-nusuk makanannya dengan malas. Ibunya kecewa dengan tingkah laku anak laki-lakinya itu.

“Letakkan Joey.”

“Dad datang tadi malam.”

“Mustahil Joey. Ayahmu sudah pergi … kau bermimpi!”

Joey bangkit, mengambil tas ranselnya dan memandang ibunya dengan kecewa. “Ya mungkin cuma mimpi,” Joey berkata pelan, kemudian melangkah pergi.

“Joey!” Ibunya memanggil. Joey berhenti di depan pintu. “Makan siangmu?”

Joey berusia sebelas belas tahun, usia yang masih terlalu muda untuk menerima rumor bahwa ia mewarisi keanehan dari ayahnya. Dia percaya dirinya bukan orang aneh. Ia tidak percaya omong kosong tentang keanehan di keluarganya. Ada dua orang yang mengatakan ia bukan orang aneh selain ayahnya. Pertama adalah ibunya. Joey percaya padanya karena ibunya sangat sayang padanya dan tidak mungkin membohongi dirinya. Kedua adalah Dustin, satu-satunya teman yang mau bermain dengannya. Dustin teman yang baik, perasaannya lebih halus dari anak perempuan dan percaya pada pribahasa ‘seratus teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak’. Sayangnya, penulis tidak akan mengaitkan Dustin dengan kejadian apapun dalam cerita ini.

Hari itu Joey tidak naik bis sekolah. Sebenarnya dia tidak pernah lagi naik bis sekolah sejak seminggu terakhir. Ia memilih naik sepeda. Tapi hari itu ia tidak naik sepeda, melainkan memilih berjalan kaki. Jika berjalan kaki ke sekolah maka akan memakan waktu satu jam, waktu yang cukup untuk memikirkan kejadian tadi malam. Ia berjalan tanpa semangat, menendang-nendang kaleng Pepsi hingga jatuh ke selokan. Ia juga menendang tumpukan daun-daun musim gugur yang dibersihkan Mr. Champman hingga berhamburan.

“Hei, anak aneh!” teriak Mr. Champman kesal.

Yang diteriaki tidak menghiraukan. Wajahnya menunduk seperti mencari-cari apalagi yang akan ditendang.

Joey merogoh saku jaketnya dan mengambil sesuatu dari dalamnya, sebuah jari manis yang masih hangat dan berdenyut dengan cincin emas melingkar. Ia menatapnya sebentar dan setelah itu memasukannya kembali. Jari itu milik Thomas, ayahnya.

Thomas datang tadi malam, melayang-layang di samping jendela kamarnya. Tapi Thomas tidak benar-benar melayang, hanya hinggap dan bergantung di cabang pohon. Ia mengetuk jendela kamarnya beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Kasihan, ia kelelahan memegang batang pohon, menahan tubuhnya supaya tidak jatuh. Alangkah malangnya jika Joey tidak segera mengizinkannya masuk.

“Hei Joey! … Bukalah!” Thomas memanggil, disusul suara patahan dahan dan ucapan ‘sialan’ karena ia hampir saja terjatuh.

Joey membuka jendela dan melihat keluar, tapi ia tidak menemukan siapapun.

“Ssst … .Joey! Di sampingmu!” bisik Thomas, tangannya menggapai-gapai pinggiran jendela dengan susah payah.

Joey terlompat kaget, buru-buru ia membanting jendela hingga membuat jari-jari Thomas terjepit. Tapi beruntung Thomas tidak jatuh.

“Joey, … bukalah! Ini Dad,” Thomas mengetuk-ngetuk jendela. “Joey? … kau dengar aku?”

Joey yang tadi mundur, melangkah mendekati jendela dan memastikan orang itu adalah ayahnya. Ia membuka jendela dan menemukan ayahnya sedang menggantung di bibir jendela. Thomas melompat dari pohon ke jendela kamar Joey. Joey membantu menariknya.

“Dad, kau seharusnya …,” Joey tidak meneruskan kata-katanya, ia langsung memeluk ayahnya.

“Sudahlah,” kata Thomas tidak mau terlalu sentimentil. Ia melepaskan pelukannya, kemudian berjalan ke arah meja belajar, berhenti di depan sebuah foto berbingkai. Di dalam foto itu ada dirinya, Ibunya dan Joey kecil. Ia memandangnya seolah-olah ingin kembali ke masa lalu. Dia tersenyum dan mengembalikan foto itu ke tempat semula. Pandangannya berkeliling ke arah gitar, komputer, buku-buku yang berserakan. Ia duduk di pinggir ranjang dan berkata pada Joey:

“Dengar Joey, waktu kita sedikit. Aku cuma punya waktu hingga tengah malam.”

“Ada apa Dad?” tanya Joey senang melihat ayahnya kembali. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan ayahnya.

“Joey, dengarlah. Aku tahu teman-temanmu mengejekmu. Memang sungguh mengerikan. Aku dulu sama sepertimu. Aku juga pernah mengalaminya.” Thomas terdiam sebentar. “Kautahu Mr. Champman?” Joey mengangguk. “Dialah penyebabnya. Dia tidak suka dengan kakekmu, dia tidak suka keluarga kita bahagia. Dia menyebarkan fitnah dan mengatakan kakekmu diculik makhluk luar angkasa. Sebenarnya masalahnya lebih rumit dari itu. Tapi kupikir sudah saatnya kau mengetahui cerita sebenarnya. Dengarlah.

“John, kakekmu, dulu seorang petani sukses. Pada tahun 1963 John panen jagung besar-besaran, menjualnya ke kota dan kembali dengan uang banyak. Hanya ladang kami yang panen, orang lain tidak seberuntung kami. Ladang mereka habis oleh tikus, termasuk ladang Mr. Champman. Tapi John bukanlah tipe pria yang membiarkan orang lain merugi. Kakekmu berbagi keuntungan dengan membagi-bagikan uang dan membantu mereka memulai usahanya kembali. John memberikan usul agar ladang di desa dibagi menjadi tiga jenis. Ladang pertama adalah ladang jagung yang akan dimiliki keluarga John, Lady Smith, dan Pendeta Lily. Ladang kedua adalah ladang kapas yang akan dikelola oleh keluarga Champman dan Dryden. Mereka mempunyai lahan luas untuk kapas, dan kebetulan saat itu musim baik untuk menanam kapas karena harga kapas sedang naik. Mereka belum punya pengalaman kecuali Terrence Dryden yang mempunyai sepupu seorang petani kapas di Lake City. Ladang ketiga akan dibuat menjadi peternakan yang akan dikelola oleh keluarga Summersun, Grey, Kirkland dan Williams. Berternak akan menjadi sesuatu yang baru bagi mereka. Di musim hujan, rumput akan tumbuh subur dan cocok untuk sapi dan domba. Mereka menerima usul John.

Di musim berikutnya panen jagung kurang begitu baik, tapi John tetap dapat untung. Beberapa bulan kemudian harga kapas jatuh karena banjir. Champman rugi dua kali lipat. Dia menjual tanahnya. Sedangkan Dryden, walaupun merugi, tetap mempertahankan kebun kapasnya. Dua tahun setelah itu harga kapas melonjak dan dia menjadi keluarga terkaya di Conewood.

Usaha peternakan tidak terlalu merugi. Mereka terus bertahan karena harga wol tidak menentu sedangkan harga susu cenderung naik sehingga mereka tetap untung meskipun sedikit.

Tahun 1965, orang-orang ramai-ramai menjual tanah. Pabrik yang membelinya. John dan keluarga lain menyayangkan pekerja mereka yang pindah kerja dan menjadi buruh pabrik. Tapi, di balik kepindahan itu ada Mr. Champman yang memengaruhi orang-orang. Pabrik membayar Mr. Champman untuk mencari tenaga-tenaga murah. Selain itu Mr. Champman melakukannya sebagai balas dendam pada John karena sudah membuatnya rugi.

Tidak sampai disitu, Joey. Mr. Champman juga menyewa orang untuk memfitnah John. Dia mengatakan bahwa keuntungan panen kami berasal dari persengkongkolan John dengan makhluk luar angkasa. Makhluk luar angkasa! Kau percaya itu Joey? Dan entah mengapa orang-orang percaya padanya. Mereka mulai merusak ladang dan melarang kami mengelolanya lagi.

John tetap bertahan dan terus bertahan hingga akhir hidupnya. Tapi gosip semakin berkembang, keluarga kami semakin terpojok dan terasing.

Tahun 1970 banyak pabrik bangkrut, orang-orang mulai kewalahan mencari kerja. Kami tidak terpengaruh oleh situasi itu karena kami orang-orang yang bertahan. Namun lagi-lagi Mr. Champman memfitnah kami dengan mengatakan penyebabnya kebangkrutan adalah aku. Untungnya hal itu tidak berlangsung lama karena aku pergi meninggalkan desa selama beberapa tahun dan kemudian menikahi ibumu.

Kautahu, Joey? Ibumu adalah putri Mr. Champman. Karena itulah, setelah kelahiranmu ibumu memutuskan kembali dan menempati rumah ini.

Sekembalinya ke sini tidak ada lagi rumor yang mengatakan aku aneh. Aku tidak tahu bagaimana penghinaan itu muncul lagi, dan kau sendiri yang harus menanggungnya. Mungkin Mr. Champman tidak menginginkan kau atau mungkin ada sesuatu yang lain. Kupikir setelah kepergianku tidak ada yang menghinamu lagi.

Aku tahu kau akan marah mendengar cerita ini. Tapi ingat Joey, kau jangan sekali-kali membenci Mr. Champman. Mungkin dia membencimu, tapi kau tidak boleh membencinya hanya karena dia membencimu.”

Joey mengangguk paham. Ia memikirkan bagaimana menceritakan kehadiran ayahnya pada ibunya.

“Dad?” panggil Joey. “Bagaimana kau bisa menikahi mom jika Mr. Champman membenci dad?”

Thomas tersenyum seolah tahu Joey akan menanyakannya.

“Nak, inilah yang dinamakan keajaiban cinta. Kau pasti akan mengalaminya nanti.”

Kalau yang ini sih Joey belum paham, tapi ia tidak ingin menanyakannya lebih lanjut.

“Joey?” panggil Thomas. “Kautahu apa sebenarnya yang membuat kita aneh?”

Joey menggeleng kepala.

“Kita lari dari masalah. Kakekmu membiarkan Mr. Champman terus fitnahnya, aku meninggalkanmu dan ibumu, sementara kau … kau menjauh dari teman-temanmu.”

Thomas meninggalkan Joey menjelang tengah malam, saat bulan purnama bersinar bersih, saat burung hantu bernyanyi dan saat serigala melolong. Joey berharap mereka dapat berkumpul kembali suatu saat nanti.

Joey menutup jendela, tapi jendelanya tidak tertutup penuh karena ada sesuatu yang mengganjalnya. Ia mengangkat jendela sedikit dan mengambil benda yang menahannya. Benda itu adalah jari manis dengan cincin emas, masih hangat dan berdenyut. Ia menatapnya, menduga jari itu milik Thomas karena ia mengenali cincinnya.

* *

Matahari merangkak naik. Daun-daun berguguran ditiup angin, lalu jatuh di jalanan yang sesekali berhamburan karena mobil yang lewat. Joey melangkah di sisi kiri jalan, dua tangannya dimasukkan dalam saku celana. Ada keraguan apakah dia akan terus melanjutkan perjalanan ke sekolah atau pergi ke suatu tempat di mana tak seorang pun menganggapnya aneh. Perkataan ayahnya boleh jadi ada benarnya. Mungkin ia memang lari dari masalah. Mungkin masalah ini dapat diselesaikan dengan bicara terbuka pada teman-temannya dan menunjukkan bahwa dirinya memang tidak aneh. Bisakah dirinya melakukan itu? Menantang teman-temannya menunjukkan apa yang aneh pada dirinya. Bagaimana dengan Mr. Champman? Apa yang harus ia katakan padanya agar Mr. Champman tidak lagi membenci keluarganya? Seribu pertanyaan lain hadir dalam pikiran Joey. Ia terlalu pusing untuk memikirkan jawabannya. Ia berharap Thomas akan kembali datang dan bersama-sama menyelesaikan masalah ini. Atau setidaknya ia dan ibunya bisa pindah ke tempat lain.

Joey mendengar deru mesin dan klakson kendaraan di belakangnya. Ia kenal suara itu, dan karena itulah dia tidak menoleh. Ia menundukkan kepala berpura-pura tidak mengetahuinya. Jendela-jendela bis terbuka, kepala-kepala melongok keluar untuk mengolok-oloknya. “Hei, anak aneh!” teriak salah seorang anak laki-laki disusul yang lainnya. “Halo namaku aku alien.”

Joey geram, wajahnya memerah, urat-urat lehernya menegang. Ia belum pernah semarah ini. Ia tahu bahwa kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah. Ia mengambil batu dan melemparnya ke arah bis sambil meneriakkan kata-kata yang tidak pantas kutulis di sini sambil berharap batu itu akan mengenai salah satu anak yang mengejeknya. Tapi ia tidak yakin, karena bis itu sudah terlalu jauh.

Tempat itu kembali sepi tetapi tidak setenang pikiran Joey yang masih berharap anak-anak di dalam bis mendapat balasan yang setimpal.

Tapi kesunyian itu hanya berlangsung sebentar. Terdengar bunyi ledakan yang cukup keras, berasal dari arah bis sekolah.

Joey berhenti sebentar. Ia merasa sesuatu yang buruk menimpa teman-temannya. Kemudian ia berlari menuju asal bunyi ledakan itu. Tidak ada lagi rasa amarah pada teman-teman yang mengejeknya kecuali berharap semuanya akan baik-baik saja. Ia berlari cukup cepat, lebih cepat dari anjingnya Mr. Champman. Ia bisa melihat bis sekolahnya oleng ke kiri, melaju dengan  roda sebelah kanan yang terangkat dan tidak lama kemudian jatuh terbalik.

Joey merasa bersalah, mengira lemparan batu tadi penyebabnya meskipun ada sedikit rasa senang karena itu menjadi lemparan terbaiknya. Tapi ia berharap tidak ada teman-temannya yang terluka parah.

Joey melempar tas, membuka kemejanya dan melemparnya ke rerumputan. Ia melompat ke bagian sisi kanan bis, mendorong pintunya, dan menendangnya hingga terdengar bunyi keras. Ia meloncat masuk dan menemukan teman-temannya terluka sambil meringis kesakitan. Ia melakukan seperti yang biasa pahlawan lakukan: membengkokkan besi, menarik kursi, mematahkan palang, lalu mengangkat dan mengeluarkan teman-temannya satu per satu melalui jendela dan kemudian meletakkan mereka di atas rerumputan. Pakaian Joey kotor terkena darah dan debu. Ia senang tidak ada yang terluka parah. Ia duduk di rumput sambil menunggu bantuan datang.

Lima belas menit kemudian tempat itu sudah ramai oleh polisi, paramedis, wartawan serta orang-orang yang ingin melihat kejadian. Joey-lah pahlawannya. Seorang polisi mengucapkan terima kasih padanya. Joey bisa bernafas lega setelah mendengar seorang polisi mengatakan penyebab kecelakaan adalah ban pecah.

Joey mendatangi anak-anak yang sedang kesakitan dan mengatakan mereka akan baik-baik saja. Di antara mereka ada si gendut Sammy, anak yang paling sering mengejeknya. Sammy datang sambil memegangi kepalanya yang berdarah dengan kain putih. Dia mengulurkan tangannya pada Joey untuk berjabat tangan dan meminta maaf. Joey tersenyum dan berusaha melupakan ejekan-ejekan itu. Mereka pun berjabat tangan. Joey berharap ini adalah akhir dari permusuhan mereka. Teman-teman Joey yang lain datang untuk mengucapkan terima kasih dan meminta maaf. Bahkan Sean berjanji akan mentraktirnya makan siang. Hmm, kalau yang ini sih Joey tidak akan menolak.

“Ya, aku memang tidak aneh,” kata Joey.

Joey berjalan melewati sekumpulan polisi. Ia ingin sendiri dan menikmati hari itu, menghirup udara segar sambil membayangkan besok hari tidak akan ada lagi yang mengatakan dirinya aneh. Ia melanjutkan perjalanannya. Mungkin tidak menuju sekolah, mungkin menyenangkan dirinya pergi memesan piza atau donat dan secangkir kopi lalu membayangkan teman-temannya bertepuk tangan untuknya di sekolah.

Ia mengambil jari manis Thomas dari dalam saku jaketnya, melihatnya sebentar lalu memasukkannya kembali. Thomas pasti akan bangga padanya.

* *

Joey semakin jauh meninggalkan mereka dan jalanan semakin sepi. Hanya hatinya yang tidak sepi. Beberapa saat lalu ia merasa dunia ini terasa sempit, namun sekarang, ia merasa dunia ini terlalu luas dan terlalu indah kalau hanya untuk dilalui dengan kemuraman. Ia seorang pahlawan dan pahlawan kita ini sedang membayangkan kepahlawanannya.

“Namaku Joey dan aku senang membantu Anda,” Joey tersenyum.

Tapi ini bukanlah akhir dari kisah Joey. Kisah lainnya datang ketika Joey dikejutkan lengkingan klakson datang dari arah tikungan di depannya: sebuah truk meluncur tepat ke arah Joey. Dengan cepat Joey melompat melewati pagar pembatas jalan untuk menghindarinya. Tapi ia jatuh di sebuah lembah curam, meluncur deras seperti kayu gelondong. Joey berputar, berputar, berputar dan terus berputar dengan putarannya yang sangat keras. Ia menggilas batu-batu, merusak bunga-bunga liar, menembus ilalang. Seekor tupai melompat menghindari terjangan Joey.

Joey tidak menyadari masalah sebenarnya. Bagian-bagian tubuhnya mulai terlepas satu per satu. Ia bahkan belum cukup sadar untuk mengetahui dia sedang kehilangan anggota tubuhnya meskipun sudah berhenti berputar. Ia hanya tahu kepalanya sangat pusing dan hampir muntah. Ia memejamkan mata untuk menenangkan diri.

Tidak ada darah; tubuh Joey bagaikan lego atau robot bongkar pasang, yang setiap anggota bagiannya memiliki cerita masing-masing.

Mari kita lihat tangan tangan dan kaki Joey yang mulai bergerak seolah punya nyawa sendiri. Mereka bergerak mencari-cari bagian-bagian tubuh yang lain. Tangan Joey berjalan dengan jari-jarinya seperti seorang tentara yang sedang merayap membawa beban berat. Sementara tangan kiri Joey  menemukan kaki kanan, tapi meninggalkannya karena terlalu sulit membawanya. Lagi pula kaki dan tangan bukan pasangan yang cocok.

Di tempat lain, tangan kanan Joey menyeret tubuhnya dengan susah payah dan menemukan tangan kiri di dekat batu besar. Di balik batu itu ada kalajengking yang dengan cepat mematuk tangan kiri Joey dan membuatnya bengkak. Tapi tangannya tidak merasakan sakit sama sekali karena tidak tersambung dengan saraf otak, kecuali terdengar teriakan seseorang tak jauh dari situ (kupastikan yang berteriak itu adalah kepalanya). Tangan kanan berdiri tegak terkepal lalu menghantam kalajengking beberapa kali hingga mati. Tangan kiri Joey, yang bisa merasakan dekat dengan tubuhnya, mulai bergerak dan menyatu dengan tubuhnya. Kini tubuh Joey sudah punya dua tangan dan siap mencari kaki dan kepalanya.

Tubuh Joey menemukan kedua kakinya setelah melewati semak berduri, semut-semut hitam dan seekor ular yang merayap di atasnya. Seekor anjing yang terlompat kaget melihat tubuh tanpa kepala. Tubuh Joey berjalan sempoyongan mencari-cari kepalanya; terkadang ia menabrak pohon, terkadang jatuh tersandung batu.

(Kepala) Joey sadar, di atasnya ada seekor burung kecil. Joey mulai membuka matanya, dan mengetahui tidak memiliki tubuh lagi. ia berteriak histeris hingga membuat si burung kecil terbang.

Joey kini sadar apa yang telah terjadi pada dirinya. Seperti inilah dirinya yang aneh, yang mewarisi keanehan dari ayahnya. Tapi apakah ia harus menyalahkan ayahnya? Tidak. Thomas benar. Ia tidak perlu lagi lari dari masalah. Toh, lagi pula tidak ada satu pun orang yang tahu dirinya seperti ini. Jadi, mengapa tidak menganggapnya sebagai berkah?

Tiba-tiba Joey merasakan merasakan benturan di kepalanya dan melihat seseorang melangkahinya dan itu tidak sopan, sangat tidak sopan.

“Hei .. kau!” teriaknya.

Orang itu berhenti dan berbalik. Joey berusaha melihatnya dengan mendongakkan kepala, tapi ia tidak bisa melihat jelas siapa orang itu kecuali hanya mengenali sepatu dan kaos kakinya.

“Hei .. Kau … Kau pasti tubuhku. Kemarilah!”

Tubuh Joey kenal suara itu. Ia pun berbalik dan melangkah ke arah kepalanya.

“Ayo angkat aku dan pasang kembali!”

Dua tangan Joey mengangkat kepalanya sendiri, Joey merasa seolah sedang terbang.

Tapi kedua tangan Joey membuat kesalahan, kepalanya terpasang terbalik. Kepalanya menghadap ke belakang hingga dapat melihat bokongnya. Meski begitu, Joey sudah bisa mengendalikan tubuhnya. Ia mengangkat kepalanya lagi dan memasangnya ke arah yang benar. Ia menggerak-gerakkan kepalanya, menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia merentangkan tangan, meremas-remas jarinya, mengangkat dua kakinya bergantian dan memastikan semuanya terpasang dengan benar dan tidak mudah lepas.

Ia memegang hidung, telinga dan wajahnya. Ia menarik telinga kanan hingga lepas, mengamati telinganya yang bolong dan kotor, lalu meniupnya hingga tidak ada lagi debu dan tanah, dan setelah itu memasangnya kembali. Ia juga melepas hidungnya, memasukkan jari kelingkingnya ke dalam lubang hidung dan menggerak-gerakannya. Ia tertawa geli.

“Aku memang aneh.”

Ya, Joey memang aneh. Tapi ini sudah menjadi takdirnya dan ia berjanji tidak akan menyalahkan Thomas atau kakeknya. Seperti Thomas pernah katakan bahwa orang yang lari dari masalah adalah aneh. Joey mulai berpikir apa yang bisa dilakukannya dengan tubuh bongkar pasangnya. Mungkin dia akan menakut-nakuti anak-anak kecil atau menjadi bintang sirkus. Tap ia tidak mau ambil pusing. Mungkin ia akan mulai dengan membuat tas koper untuk menyimpan bagian-bagian tubuhnya.

* * *

Ali

Ganteng | Tinggal di Bekasi | https://linktr.ee/ali.reza

Komentar

Close Menu