15 Mil

Aku dulu sepertimu. Muda, berambisi tapi selalu mengikuti aturan. Tiga puluh dua tahun menjadi polisi dan harus berakhir seperti ini. Tangan dan kaki dirantai, terkurung dalam mobil baja. Oh Tuhan … seperti monster saja,” James berkata, lebih untuk menghilangkan kekakuan diantara mereka. Yang diajak bicara seorang detektif muda yang menangkapnya, baru satu bulan dipindah tugaskan, tidak banyak bicara, kecuali sering melihat jam tangannya dan mengusap hidungnya yang meler. Mungkin itu akibat cuaca panas yang membuat wajahnya memerah dan sedikit flu.

Mobil berbelok ke kiri.

“Selalu diam begini? Ah, kau pasti berpikir bicara akan membuatmu lengah dan mengira aku akan mengeluarkan klip kertas dari dalam mulut, membuka rantai ini lalu membunuhmu? Itu pemikiran yang bodoh. Aku tidak akan pernah melakukannya.”

Ruang dalam mobil lumayan pengap, ventilasi tidak memberikan cukup angin.

“Aku pernah mengawal seorang penjahat besar. Pembunuh berantai. Tapi ia masih asik diajak bicara.”

“Yeah, aku pernah dengar,” ia akhirnya bicara. “Yang kaumaksud pasti Keane Si Penjagal. 1986. Kau yang menangkapnya.”

“Tanpa mengeluarkan sebutir peluru. Terima kasih menangkapku tanpa peluru, detektif Adam Johnson.”

Detektif Johnson pernah mendengar popularitas James Millner, tentang kepiawaiannya mengungkap kasus-kasus besar pembunuhan. Jauh sebelum itu, ketika masih di bagian narkotika, James pernah menangkap kartel besar.

“Detektif, apa kau menikah?”

“Aku memiliki seorang anak perempuan. Usianya empat tahun.”

“Itu bagus.”

Mobil melaju tenang dan pelan, James bisa sedikit mengintip ke luar, memerhatikan orang-orang berdiri berjejer melihat iring-iringan kendaraan mereka.

“Mereka membenciku.”

Adam melepas jaketnya, membuka tiga kancing kemeja dan menggulung kedua lengan kemejanya.

“Kau pernah menembak? Penjahat maksudku.”

“Beberapa kali. Tapi belum pernah sampai membunuh.”

“Meleset?”

“Tidak semua.”

“Aku sudah menembak ratusan kali, membunuh tujuh belas penjahat. Empat dari tembakan itu membuatku mendapat penghargaan.”

Di usia awal lima puluhan James masih memiliki mata yang tajam dan sulit dijatuhkan. Tapi kini reputasinya seperti hilang terbawa air. Dua tahun terakhir itu ia lebih dikenal sebagai seorang polisi yang mengacaukan segalanya, seorang pemabuk dan menganggap dirinya lebih pintar dari selusin polisi di Manchester.

“Aku banyak mendengar cerita tentangmu.”

“Apa? Yang mana?”

“Kupikir kau masih polisi yang baik. Ex-polisi maksudku.”

James mencibir, “Hey, kau yang menangkapku. Kau juga bisa tanya orang-orang di luar.”

“Sial! Aku tidak yakin kau pembunuhnya.”

“Kalau begitu dengarlah. 25 Januari, aku baru pulang dari Red Cafe jam sebelas malam menyesali pertengkaranku dengan istriku. Kulihat dua orang pria memasuki rumah keluarga Scholes. Dua orang pria dengan dua buah tongkat bisbol. Mereka bisa jadi siapa saja. Tapi dengan tongkat bisbol? Aku tahu keluarga Scholes. Paul orang baik. Usianya hampir 80 tahun. Anak tertuanya menjadi pendeta dan satu anak lainnya menjadi pengacara hebat di London.”

“Aku melompat masuk, tapi salah satu bangsat itu tahu kedatanganku. Ia memukul kepalaku dengan tongkat dan aku tidak ingat apa-apa lagi.” James memegang kepalanya yang masih terasa pusing akibat pukulan tongkat itu.

Mereka tiba di pengadilan sebelum jam 10. Terdengar suara gaduh dari sekelompok orang di luar.

“Ini saatnya,” Adam berkata, lalu membuka borgol di tangan dan di kaki James.

Pintu mobil terbuka, dua orang polisi mengawal mereka dari serbuan puluhan wartawan. James menghentikan langkahnya, ia berkata, “Mereka kembar.”

Pengadilan dimulai satu jam kemudian, Adam menjadi saksi namun dengan keraguan. Semuanya jelas, sidik jari di pistol merupakan milik James. Adam menangkapnya tanpa perlawanan.

<>

Adam memiliki kesempatan karir melebihi polisi terbaik Manchester setelah mengungkap kasus penyelundupan narkoba terbesar seminggu kemudian. Usianya baru menginjak dua puluh enam, cerdas dan lumayan tampan. Ia seorang pekerja keras dan rapih dalam segala hal. Tetapi malam itu ia hanya memikirkan James. Perkenalan singkatnya di mobil itu seperti telah mengenalnya lama. James menaruh harapan padanya.

James memang pemabuk, tapi tidak ada motif yang jelas untuk menghabisi nyawa Paul dan istrinya. Ia mengambil berkas James, membacanya sebentar dan memutuskan untuk mengunjungi istri James keesokan harinya.

Anna tinggal bersama kedua anak perempuannya dan bekerja sebagai agen real estate. Nada bicaranya memperlihatkan ia seorang wanita tegar dan masih mencintai mantan suaminya. Mereka melakukan pembicaraan ringan seputar pribadi James dan permasalahan rumah tangganya. Pada awalnya Anna memuji James sebagai suami yang bertanggung jawab dan sangat sayang kepada keluarganya. Kemudian ia menunjukkan sebuah foto bersama James dan kedua anaknya. Tapi pada akhirnya ia menyerah ketika James terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan mabuk-mabukan.

Adam yang tidak ingin larut dalam cerita sedihnya berkata, “Aku tahu James tidak bersalah.”

Malam itu Adam sengaja mengunjungi rumah No. 47 East Wembley dan menunggu hingga pukul 23.15, waktu yang hampir sama dengan kedatangan James di malam kejadian. Rumah itu masih dibiarkan kosong, namun dengan lampu depan tetap dibiarkan menyala untuk memberi kesan tidak menyeramkan. Ia menarik pintu pagar dengan hati-hati, melangkah ke dalam rumah dan membuka pintu dengan kunci yang sudah disiapkan. Ia naik ke lantai dua, di kamar tidur utama tempat dimana kelurga itu dibantai. Ia menyalakan lampu dan melihat tempat itu masih sama dengan terakhir kali ia datang. Kaca-kaca dan keramik berserakan, beberapa bingkai kaca foto retak dan perabotan yang hancur. Kemudian ia kembali ke lantai satu dan menyalakan semua lampunya. Foto-foto di dinding memberi petunjuk. Pemilik rumah, Mr. Scholes, merupakan seorang manajer klub West Ham, menyimpan lumayan banyak koleksi foto-foto lama para pemain sepak bola terkenal di masanya. Selain lima ratus pound, benda-benda lain yang hilang dalam perampokan itu adalah sebuah sarung tangan kiper klasik dan sebuah bola bertanda tangan Pele, Johan Cruyff, Franz Beckenbauer, Maradona, Geoff Hurst, Bobby More dan George Best. Tidak banyak petunjuk baru yang didapat, tapi seperti inilah Adam menangkap pelaku sebenarnya.

James pernah mengatakan bahwa pelakunya kembar. Ada tiga pasangan kembar antara East Wembley hingga West Wembley: Pasangan kembar pertama adalah perempuan. Pasangan kembar kedua adalah bocah laki-laki berusia empat tahun. Dan yang ketiga adalah si kembar Neville. Tentunya dengan mudah Adam mencurigai pasangan terakhir. Pasangan kembar Neville merupakan pemuda lokal kulit putih yang menguasai lapangan futsal di belakang SMA East Wembley dan sering bentrok dengan pemuda Mexico. Berikut kronologis penangungkapan kasusnya:

Adam menahan sang kakak, Garry Neville, lebih dulu di lapangan sesaat sebelum terjadi pertikaian dengan seorang pemuda Mexico, lalu membawanya ke rumahnya untuk mencari barang bukti di sana. Mengetahui kakaknya ditangkap, sang adik, Phillip Neville, datang dan langsung mengancamnya. Adam dengan tenang menghajar dan memborgolnya, lalu mendudukannya di sebelah sang kakak. Adam menemukan sepasang sarung tangan kiper klasik milik Peter Schmeichel dan koleksi bola milik Mr. Scholes di rumah orang tua mereka.

“Jadi kalian ingin menjualnya?”

Penegasan tersangka kepada kembaran Neville datang dari seorang pemuda Mexico bernama Chicarito sesaat setelah mereka meninggalkan rumah.

“Aku melihat mereka sering mengancam Mr. Scholes.”

“Kau baru saja menyelamatkan nyawa seorang polisi, Nak.”

Dua hari kemudian pengadilan membebaskan James dari semua tuduhan dan mengembalikan semua hak-haknya termasuk uang pensiun yang akan diterimanya beberapa bulan lagi. James berterima kasih pada Adam.

<> 

Delapan belas tahun berikutnya Adam menjadi polisi sukses. Ia memecahkan puluhan kasus, mendapat promosi dan beberapa penghargaan. Memasuki usia pertengahan empat puluhan, rambutnya mulai memutih di beberapa bagian, namun tetap tidak kehilangan pesona mudanya. Malam itu dia mempersiapkan penangkapan terbesar sepanjang karirnya. Besok pagi ia akan menangkap anak Walikota Ferguson, Ryan Giggs, di bandara. Ryan Giggs lebih dikenal dengan julukan Left Foot, seorang bandar narkoba kelas kakap yang mengontrol perdagangan narkoba online di jaringan Amerika, Eropa dan sebagian Asia. Omsetnya miliaran dolar, punya jet pribadi dan seorang ayah yang melindunginya. Ia tidak punya pabrik narkoba, semuanya dikerjakan dari ribuan rumah kecil dari Porto sampai Jakarta yang dimonitor secara online. Adam sudah menangkap orang-orang di lingkaran terdekat Giggs dan memiliki data pergerakan keuangannya yang tidak wajar.

Sudah ribuan kali Adam membaca berkasnya, memastikan buki-bukti dan berharap semuanya akan berjalan lancar besok. Ia punya orang kepercayaan, Eric Cantona, seorang letnan yang juga keponakannya. Tapi ia pikir lebih baik memimpinnya sendiri. Ia memandang foto istri dan kedua anaknya, sesuatu yang malah jarang diperhatikannya saat berada di kantor. Ia mengakui ada hari-hari yang hilang untuk keluarganya yang belum tentu akan terbayar. Tapi ia pria yang sangat mencintai keluarganya. Ia berjanji bahwa setelah menyelesaikan kasus ini, ia akan lebih menghabiskan banyak waktu bersama mereka, atau bahkan jika perlu, ia akan mengundurkan diri dari kepolisian sebelum usia lima puluh.

Pagi datang begitu cepat. Matahari belum naik ketika sepasukan polisi menyerbu bandara. Jalan keluar-masuk diamankan, lorong-lorong dikosongkan dan tiap-tiap sudut dipenuhi petugas berseragam lengkap. Kegiatan di bandara masih dibiarkan normal untuk menghindari kecurigaan karena target akan ditangkap sesaat setelah turun dari pesawat. Adam memastikan penangkapannya akan berlangsung cepat dan tanpa menimbulkan korban jiwa. Karena itulah ia menjadi orang terdepan yang menyambut Ryan Giggs dengan borgol. Tidak ada tembak-menembak. Giggs tidak terlihat takut, senyumnya menunjukkan ketenangannya. Giggs tahu orang yang bertanggung jawab atas penangkapannya, dan ia juga tahu ayahnya tidak akan membiarkannya mendekam di penjara.

Para wartawan berada dalam jarak yang cukup jauh namun masih bisa mengambil gambar tersangka. Walikota Ferguson langsung terbang dari Milan dengan membawa seorang pengacara muda yang ambisius, Joe Hart.

Dalam rentang waktu pemeriksaan dan pengadilan timbul perdebatan antara pihak kepolisian yang yakin dengan penangkapan Ryan Giggs karena didukung saksi-saksi dan bukti yang menguatkan dengan pihak yang mengatakan bahwa polisi salah tangkap dan menganggapnya sebagai rekayasa politik untuk menjatuh kredibilitas Walikota. Tapi untuk urusan yang demikian Walikota Ferguson yang lebih berpengalaman. Pengadilannya berlangsung cepat. Ferguson, melalui Joe Hart, sudah menguasai hakim dan mengintimidasi para saksi. Ryan Giggs hanya pedagang online dari sebuah start-up yang didirikannya.

“Seperti kaulihat, kekayaan Mr. Giggs berasal dari IPO. Ia hanya dua tingkat di bawah Mark Zuckerberg,” kata Joe Hart menutup pembelaannya.

Adam tidak percaya Giggs bisa bebas. Kerja kerasnya selama berbulan-bulan menjadi sia-sia. Ia bertekad pekerjaan terakhirnya sebelum meninggalkan kepolisian adalah melempar para pejabat korup kedalam penjara.

Red Cafe masih buka hingga jam satu pagi. Hujan turun sebelum jam dua belas. Pelayan kafe mulai membersihkan meja-meja dan mengangkat kursi-kursi, lampu di beberapa meja belakang dimatikan. Adam membayar kopi dan pancake-nya. Ia melangkah terburu-buru untuk menghindari hujan. Ia hampir tergelincir dan menjatuhkan kunci mobil. Ia belum sempat membuka pintu mobil ketika tiba-tiba seseorang menarik kerah bajunya dari belakang dan mengempasnya ke tanah. Lima pria besar dengan tongkat sedang mengincarnya, dan Giggs berdiri di sana. Adam tidak bisa menunggu kesialan berikutnya. Ia baru akan menyerang balik ketika sebuah tendangan mengarah ke wajah dan, membuatnya tersungkur. Darah mengucur dari hidungnya. Giggs mengangkat tangan kanan, memberi isyarat ingin mengakhirinya segera. Ia menarik pistol dari balik jaket dan mengacungkan tepat ke kepala Adam.

Kejadiannya berlangsung cepat. Sebuah tembakan memecah keheningan, seperti nafas yang tertahan, seperti udara yang membeku. Titik-titik air hujan berhenti di pertengahan. Asap pistol menyebar di udara. Itu tembakan pertama Adam dalam setahun, entah membuat Ryan Giggs mati atau masih bernafas. Pelayan di dalam kafe tidak berani keluar, ia cepat-cepat menurunkan tirai dan menghilang.

Adam menembak dua kali ke udara untuk menggertak. Empat pria besar pergi satu per satu, meninggalkan Giggs yang tampak tidak bergerak.

Detektif Adam Johnson ditangkap di rumahnya sehari kemudian. Dalam perjalanannya ke pengadilan, ia dikawal oleh seorang detektif muda berwajah latin. Ruangan di dalam mobil terasa panas. Ia meminta sang detektif muda untuk membuka kancing bajunya. Sang detektif muda tidak canggung mendekati tawanan barunya itu, bahkan ia menawarkan sebatang rokok untuknya. Tetapi merokok akan membuat ruangan lebih panas.

Detektif muda itu sepertinya tipe orang yang menyenangkan dan asik diajak bicara sepanjang 15 mil perjalanan. Sebenarnya Adam pernah membaca berkas pemuda itu yang diterimanya beberapa waktu lalu, tapi ia lupa namanya.

“Siapa namamu, Detektif?”

“Aguero. Kun Aguero.”

Di luar orang-orang berjejer melihat iring-iringan mobil itu.

Adam menarik nafas panjang, mengembuskannya perlahan dan tersenyum. Ia melihat detektif muda itu dengan pandangan aneh sambil mengingat dirinya dulu sewaktu mengantar James Milner ke pengadilan.

“Aku dulu sepertimu. Muda, berambisi tapi selalu mengikuti aturan. Dua puluh empat tahun aku menjadi polisi, tapi harus berakhir seperti ini. Tangan dan kaki dirantai, terkurung dalam mobil baja. Oh, Tuhan … seperti monster saja.”

< >

Ali

Ganteng | Tinggal di Bekasi | https://linktr.ee/ali.reza